Kamis, 04 Februari 2010

Cermin dan Hati

Sebuah cermin akan memantulkan apapun objek di depannya sama besar, jarak bayangan sama, tegak dan berlawanan arah. Tidak peduli apakah si objek adalah beridentitas sebagai benda mewah atau murahan, keras atau lembut, indah atau jelek, semuanya akan dipantulkan.

Tulisan ini terinspirasi ketika saya baca Hati ibarat Cermin di blog kangboed. Saya yakin sejak kecil kita telah dikenali oleh benda persegi (mungkin oval) yang terbuat dari kaca berlapiskan alumunium/perak tipis. Di benda tersebutlah kita mulai mengamati siapa di balik kaca berlapiskan perak tersebut. Itulah benda yang bernama cermin yang selalu menemani kita sejak kecil hinggg saat ini, dan tidak sedikit orang menghabiskan waktu, perhatian dan energi pada wajah-tubuh karena melihat si cermin ini. Namun, kita tidak akan membahas cermin “fisik” semata.

*****

Alam Semesta adalah sumber inspirasi pengetahuan kehidupan. Mulai air, bunga, bebatuan, semut, tetumbuhan, hingga benda yang satu ini : Cermin dapat kita gunakan sebagai sumber inspirasi roda kehidupan. Apa yang dapat kita pelajari cermin adalah dari hakikat cermin itu sendiri [topik ini khusus menganalisi cermin datar, bukan cermin cembung/cekung]. Sebuah cermin [datar] akan memantulkan apapun objek di depannya sama besar, jarak yang sama, tegak hanya berlawanan arah [kiri menjadi kanan, dan sebaliknya]. Tidak peduli apakah si objek adalah beridentitas sebagai benda mewah atau murahan, keras atau lembut, indah atau jelek, semuanya akan dipantulkan.

Semakin bersih permukaan cermin, maka bayangan cermin akan tampak semakin jelas seperti aslinya. Kapan saja ada orang cermin, cermin akan langsung memberi bayangannya. Karateristik cermin ini tentu tidak dapat kita temukan pada tanah ataupun batu yang sulit memantulkan cahaya dan membentuk bayangan benda. Meskipun cermin sekalipun, jika permukaannya kotor atau retak/pecah, maka cermin akan memberi bayangan terdistrorsi dari aslinya.

Dari sifat cermin di atas, maka pada hakikatnya hati manusiapun tidak berbeda dengan cermin, begitu juga hakikat cermin tidak berbeda dengan hati. Hati yang bersih akan melihat semua fenomena/kejadian dengan “kaca mata’ bening tanpa memberi embel-embel. Hati yang bersih bak cermin akan menghargai semua fenomena dengan apa adanya. Hati yang bersih tidak akan mendiskriminasikan si kaya atau si miskin, si cantik atau si jelek, si pintar atau si bodoh, semuanya akan diperlakukan layaknya sebagai manusia yang manusiawi.

Hati bersih tidak akan memberi “bumbu” atau noda kepada setiap entitas, bukan pujian, bukan pula celaan. Ia akan memperlakukan terbaik, ia akan memberi dukungan terbaik, dan memberi nasehat terbaik untuk berubah menjadi lebih baik. Hati bersih bukanlah penjilat yang membesarkan suatu bayangan, bukan pula penipu yang menyembunyikan realitas dengan menghalangi suatu objek pada permukaan cermin.

Hati bersih sama sekali bukan sesuatu yang pandir, apatis, namun memberi proporsi yang pas, tepat dan rasional bak cermin yang memantulkan sebuah benda dengan besar dan tinggi yang sama. Hati yang tulus dan bijak dapat kita temukan pada kasih sayang orang tua pada kita, ibu kita. Kisah dan cerita Ibu yang sesungguhnya adalah mereka melahirkan, merawat, membesarkan dan merawat putra-putrinya bukan untuk mengharap balasan budi, tapi suatu kebaikan pada anaknya. Seorang Ibu akan selalu bingung jika diberi pilihan siapa putra-putri yang paling disayanginnya dan mana yang tidak/kurang. Semuanya sama bagi seorang Ibu.

****

Hati bukanlah cermin, dan cermin bukan pula hati. Namun dari sifat fenomena cermin, kita sebenarnya dapat menemukannya dalam hati terdalam kita yang mana dipermukaan masih diselubungi oleh noda dan bintik. Noda hati adalah pemikiran dan pandangan diskriminasi. Sedangkan inti sari hati adalah pemikiran non diskriminasi, suatu pikiran yang tidak membeda-bedakan. Inilah mati hati, mata cinta kasih, mata kebijaksanaan.

Hati bukanlah cermin, dan cermin bukan pula hati. Ya…karena sebuah cermin memiliki keterbatasan ruang, sedangkan hati manusia memiliki dimensi yangtidak hingga jika saja kita mengembangkannya. Jika cermin hanya bisa memantulkan suatu entitas objek yang nyata, namun hati bisa memantulkan entitas sebuah “cinta” yang abstrak. Hanya saja, apakah kita memberi ruang dan waktu agar hati kita berkembang seraya mengangkat bintik dan noda di permukaan hati agar semakin bijak dan semakin banyak orang merasakan kedamaian dan keindahan cerminan hati kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar