Rabu, 09 Juni 2010

MASIH MEMPERTENGKARKAN AJARAN AGAMA

 
We seek peace, knowing that peace is the climate of freedom.
~ Dwight D. Eisenhower.

Siapa atau apa adanya Anda, jelas bukan seperti apa yang dikatakan oleh buku-buku, oleh kitab-kitab seberapa banyak orangpun menganggapnya suci, oleh orang-orang, atau oleh siapapun itu adanya. Kitalah yang sepatutnya paling tahu siapa atau apa adanya kita bukan?

Namun, sebelum kita berkemampuan menemukan sendiri atau mengetahui sendiri secara langsung, tentu adalah arif untuk meminta bantuan orang lain yang bisa dipercaya, yang telah lebih dulu menemukannya bukan? Kitab-kitab yang tepat, yang ditulis oleh mereka yang bisa dipercaya telah menemukan Diri-Nya Sendiri misalnya, yang umumnya kita sebut dengan kitab-kitab suci itu, juga sekedar alat-bantu yang bisa jadi efektif bila digunakan dengan baik.

Nah ... dalam hal menggunakan alat-bantu serupa, hendaklah kita sadar kalau setiap orang akan menuangkan apa yang dipahaminya sesuai kebiasaan, tradisinya, budayanya serta kemampuannya berekspresi —yang tentu saja tidak harus sama satu dengan yang lainnya. Mereka bisa menggunakan gaya-bahasa, bahkan bahasa yang berbeda-beda. Dan itu, tak perlu dipersoalkan; tak juga ada keharusan untuk menirunya, sejauh dibutuhkan adalah esensi dari apa yang disampaikan.

Itu pada sisi beliau-beliau itu. Sekarang pada sisi kita. Kita —disamping punya kebiasaan, tradisi dan budaya masing-masing— juga punya tingkat kemampuan atau daya yang berbeda-beda didalam mencerap intisari dari sesuatu yang kita pelajari bukan? Dan ini, lagi-lagi tidak sama. Anda, bisa saja mampu mengkristalisasikan sebuah kitab ajaran luhur hanya dalam sebulan, sementara untuk hal yang sama saya butuh waktu setahun untuk itu, misalnya. Tidak harus sama!

Makanya, ada yang mengatakan bahwa ‘apabila seseorang telah memasuki jantung dari ajaran agama yang dianutnya, iapun akan bisa melihat kebenaran dalam ajaran agama manapun’. Ada pula yang mengatakan kalau ‘yang mempertengkarkan ajaran-ajaran agama justru yang tidak menerapkan ajaran agama yang dianutnya itu’. Sebab, walau tidak sama persis, mereka mengajarkan pokok-pokok ajaran yang —secara esensial— sama. Menyadari fakta ini, bukankah sangat menggelikan mempertentangkan untuk kemudian mempertengkarkan ajaran-ajaran luhur itu?

Renungkanlah Sahabatku...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar