Kamis, 20 Januari 2011

Nabi Yusuf ‘alaihissalam

Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah dua keutamaan: Kebaikan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah seorang pemuda yang sangat tampan, dan secara batiniah beliau memiliki akhlak yang sangat mulia. Dengan dua hal ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam senantiasa bersabar ketika menjalani ujian-ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk ketika digoda oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan.

Kisah ini adalah kisah paling menakjubkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkannya secara lengkap dan memaparkannya dalam satu surat khusus secara terperinci dan jelas. Membaca surat ini saja sudah cukup sehingga tidak butuh penafsiran. Dan dalam surat ini (Surat Yusuf), Allah Subhanahu wa Ta’ala menguraikan keadaan Nabi Yusuf ‘alaihissalam mulai dari awal hingga akhir kisah. Lengkap dengan peralihan tempat kejadian, pergantian situasi dan keadaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)
Akan kami sebutkan beberapa faedah penting yang disimpulkan dari sejarah besar ini. Dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami memulainya.
Putra tersayang Nabi Ya’qub Alaihissalam
Nabi Yusuf Alaihissalam adalah salah satu dari 12 orang putra Nabi Ya’qub Alaihissalam. Rasa sayang Ya’qub yang berlebihan terhadapnya membuat saudara-saudaranya menjadi iri hati terhadapnya. Lebih dari itu, wajah Yusuf pun jauh lebih tampan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.
Suatu hari Yusuf bermimpi tentang 11 bintang, matahari dan bulan, (turun dari langit) dan semuanya bersujud di depannya. Ia menceritakan mimpinya ini kepada ayahnya. Ya’qub sangat gembira mendengar cerita itu dan menyatakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan kemuliaan, ilmu, dan kenikmatan hidup yang mewah bagi putranya.

Dengan demikian, maka sisi keterkaitan mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di mana beliau melihat matahari, bulan dan sebelas bintang bersujud kepadanya adalah sebagai berikut:
Semua ini adalah benda-benda yang menghiasi langit, yang mempunyai berbagai manfaat. Begitu pula halnya para nabi, ulama, orang-orang pilihan, mereka adalah perhiasan di muka bumi. Dengan perantaraan mereka, seseorang akan terbimbing dalam kehidupannya di bumi sebagaimana dia terbimbing pula dengan cahaya dari langit (angkasa raya). Ayahnya (Nabi Ya’qub ‘alaihissalam) dan ibunya adalah sumber (asal), sedangkan saudara-saudaranya adalah cabang (furu’). Maka sangat sesuai jika bentuk dan cahaya asal atau sumber lebih besar daripada cabang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa matahari atau bulan adalah permisalan bagi ayah atau ibunya. Bintang-bintang menggambarkan saudara-saudaranya. Dan menyangkut hal ini, bahwa orang yang bersujud menunjukkan penghormatannya kepada yang dia sujudi. Dan yang menerima sujud ini, dia diagungkan lagi dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi seorang yang diagungkan dan dihormati oleh kedua ibu bapaknya serta saudara-saudaranya. (Lihat Taisir Al-Lathif Al-Manan fi Khulashah Tafsiri Al-Qur`an karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah)

Namun hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan beberapa pendahuluan yang menggiring kepada semua perkara ini. Di antaranya adalah ilmu dan amalan serta sebagai pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Yusuf: 6)
Dan Ya’qub menyuruh agar Yusuf menyembunyikan hal ini karena khawatir dengan ulah saudara-saudaranya:
“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”  (Yusuf: 5)
Saudara-saudara Yusuf membinasakan Yusuf dalam Sumur yang Dalam
Saudara-saudara Yusuf merasa iri hati atas kelebihan kasih sayang yang dicurahkan ayah mereka kepada Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Mereka berkata:
“Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. ” (Yusuf: 8)
Mereka merencanakan persekongkolan untuk membinasakan Yusuf. Mereka berkata:
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (Yusuf: 9)
Salah satu dari mereka menyarankan agar jangan membunuhnya, tetapi membuangnya jauh-jauh ke dalam sumur, agar ia tidak bisa kembali kepada ayahnya, seraya berkata:
“Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat” (Yusuf; 10)
Yusuf kecil diajak bermain-main oleh kakak-kakaknya, namun Ya’qub tidak menyukainya, maka mereka pun berkata:
“Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya” (Yusuf:11-12)
Namun Ya’qub tetap khawatir dan berkata:
“Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya.” (Yusuf: 13)
Kemudian mereka kembali meyakinkan ayah merka seraya berkata:
“Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi (menjadi orang-orang pengecut yang hidupnya tidak ada artinya)” (Yusuf:14)
Setelah mereka berhasil membujuk ayahnya untuk mengizinkan mereka membawa Yusuf. Saat itulah mereka melaksanakan niat jahat mereka untuk menyingkirkan Yusuf. Maka tatkala mereka membawanya  (ke suatu tempat) dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur yang dalam (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Allah mewahyukan kepada Yusuf:
“Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi” (Yusuf:15)
Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata:
“Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (Yusuf: 16-17)
Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata:
“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran itulah yang terbaik (bagiku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf:18)
Yusuf Diselamatkan dari Sumur
Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Yusuf ditolong oleh seorang kafilah yang lewat di tempat itu. Kelompok orang-orang musafir itu menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata:
“Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” (Yusuf: 19)
Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan.
Yusuf menjadi Budak Qithfir , Pembesar Mesir
Kemudian mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf karena dia anak temuan dalam perjalanan. Jadi mereka kuatir kalau-kalau pemiliknya datang mengambilnya. Oleh karena itu mereka tergesa-gesa menjualnya sekalipun dangan harga yang murah. Ia kemudian dibawa ke Mesir untuk dijual sebagai budak hingga akhirnya dibeli oleh keluarga pembesar Mesir yang bernama Qithfir. Dan Qithfir berkata kepada isterinya (nama isterinya Zulaikha):
“Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” (Yusuf:21)
Yusuf digoda Zulaikha, Wanita yang Cantik
Dan tatkala dia cukup dewasa . Allah memberikan kepadanya hikmah dan ilmu sebagai balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Wajah Yusuf yang sangat tampan itu membuat istri pembesar yang bernama Zulaikha terpikat. Suatu ketika pada saat suaminya tidak ada di rumah, Zulaikha mengajak Yusuf untuk berbuat tidak senonoh. Dia menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:
“Marilah ke sini.”
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Allah agar memalingkan dari kemungkaran dan kekejian. Kemudian Yusuf menolak ajakan tsb seraya berkata:
“Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (Yusuf: 23)
Kemudian keduanya berlomba-lomba menuju pintu, Yusuf ingin keluar membuka pintu, sedangkan wanita itu ingin menutupnya. Kemudian wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak . Tatkala itu terjadi datanglah suami wanita itu, dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata:
“Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf:25)
Zulaikha memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa Yusuf telah berlaku tidak senonoh terhadapnya. Yusuf berkata kepada tuannya:
“Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)” (Yusuf:26)
dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya:
“Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf:26-27)
Pembesar itu sangat murka, setelah pembesar itu memeriksa, ternyata yang robek adalah kemeja bagian belakang Yusuf. Dengan demikian Yusuf pun selamat kemudian berkatalah pembesar Mesir kepada istrinya:
“Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar. (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini , dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” (Yusuf: 28-29)
Cerita tsb kemudian menyebar ke masyarakat luas. Dan wanita-wanita di kota berkata:
“Isteri Al Aziz (yaitu pembesar mesir) menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata” (Yusuf: 30)
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, Zulaikha yang merasa malu karena menjadi pembicaraan orang. Kemudian dia mengundang istri-istri para pembesar Mesir ke rumahnya. Masing-masing disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Ketika mereka sibuk mengupas buah, Zulaikha menyuruh Yusuf keluar:
“Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” (Yusuf:31)
Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai (jari) tangannya dan berkata:
“Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” (Yusuf: 31)
Kini mereka mengerti mengapa Zulaikha begitu terpikat pada Yusuf. Zulaikha berkata:
“Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” (Yusuf: 32)
Yusuf diancam akan dipenjara, sebagian dari wanita pembesar Mesir menyarankan Yusuf untuk menerima keinginan Zulaikha, lagipula Zulaikha sendiri adalah wanita yang sangat cantik. Mendengar itu, Nabi Yusuf Alaihissalam berdoa agar tetap diberi keteguhan iman:
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33)
Maka Allah memperkenankan doa Yusuf dan menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Kemudian timbul pikiran pada wanita-wanita tersebut setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.

Yusuf Dipenjara dan Menafsirkan mimpi
Nabi Yusuf Alaihissalam dikaruniai oleh Allah kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Saat Yusuf Alaihissalam di penjara, suatu hari dua orang teman sepenjaranya bercerita padanya tentang mimpi mereka. yang pertama adalah kepala tukang pembuat minuman bernama Nabu, berkata: “Sesungguhnya aku melihat bahwa aku memeras anggur.”

Orang kedua adalah kepala tukang roti bernama Malhab, berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, burung memakan darinya (roti yang ada dikepala-admin).” Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang muhsinin (pandai, juga dalam mena’birkan mimpi)” (Yusuf: 36)
Yusuf ‘alaihissalam berkata dalam rangka mengajak keduanya kedalam agama Allah sebelum menafsirkan mimpi keduanya:
“Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Yusuf: 37-40)
Yusuf pun menafsirkan mimpi mereka, ia berkata kepada kedua orang itu,
“Hai kedua penghuni penjara: Adapun salah seorang diantara kamu berdua (yakni kepala tukang minuman), akan memberi minuman tuannya dengan khamar (yang berarti engkau akan dibebaskan lantaran engkau tidak terbukti terlibat persekongkolan melawan raja); adapun yang seorang lagi (yakni kepala tukang roti) maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya (karena engkau terbukti terlibat persekongkolan melawan raja). Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku oleh Allah sebagaimana yang aku terangkan)”
Dan itu pasti terjadi karena Yusuf tidak berbicara sembarangan melainkan apa yang telah diilhamkan Allah kepadanya dalam menafsirkan mimpi kalian berdua.
Semua yang diramalkan Yusuf benar-benar terjadi, dan kepala minuman akhirnya menerima kebebasannya. Saat ia akan keluar, Yusuf berpesan kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Yakni agar ia menceritakan kepada raja perihal keadaan dirinya. Ia ingin raja meninjau kembali keputusannya karena sesungguhnya ia tidak bersalah.
Akan tetapi karena terlalu gembiranya tukang minuman itu sehingga syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada raja, dan mengakibatkan Yusuf harus tinggal di penjara beberapa tahun lagi.
Kemampuan Nabi Yusuf Alaihissalam dalam menafsirkan mimpi kedua rekannya ini diceritakan dalam Al-Qur’an surat Yûsuf: 36-42.

Mimpi Raja Mesir (Fir’aun) yakni Ar-Rayyan bin Al-Walid
Pada suatu hari, raja mengalami mimpi yang sangat menggelisahkan dan menakutkan dirinya. Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir rahimahullahu (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383) 

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, fir’aun (pharao) adalah nama yang dipakai untuk penyebutan raja-raja Mesir zaman dahulu. Sebagaimana Qaisar (Kaisar) atau Hiraql (Heraklius) untuk penamaan raja-raja Romawi. Adapun Persia terkenal penyebutannya dengan Al-Akasirah, bentuk jamak dari Kisra. Sedangkan raja-raja Yaman dikenal penamaannya dengan At-Taba’ah, jamak dari Taba’. Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Ishaq, bahwa fir’aun-nya Nabi Yusuf adalah raja terkemuka bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, dan masuk Islam (mengikuti ajaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam). Sedangkan fir’aun-nya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah raja yang bernama Al-Walid bin Mush’ab bin Ar-Rayyan (dan menentang ajaran Nabi Musa ‘alaihissalam) 

Hal ini menunjukkan bahwa melalui raja itulah terikatnya segala persoalan kemaslahatan rakyat. Apabila rajanya baik maka baik pula urusan rakyat, dan apabila rajanya buruk (akhlaknya) urusan rakyatnya juga akan rusak. Inilah hubungan ketika dia melihat mimpi itu. Ia lalu mengumpulkan dukun-dukun dan orang-orang pintar untuk meminta mereka menafsirkan mimpinya. Ia berkata,
“Sesungguhnya aku telah bermimpi melihat 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus, dan aku bermimpi pula melihat 7 batang gandum hijau dan 7 batang gandum kering, maka terangkanlah takwil mimpi itu jika kalian mampu menafsirkannya.” (Yusuf: 43)
Orang-orang yang ada di situ terkejut mendengar mimpi raja ini. Mereka merasa bingung dan memberikan jawaban yang tidak memuaskan dengan mengatakan bahwa mimpi itu tidak bisa ditafsirkan karena ia hanya berupa impian yang kacau dari raja dan tidak memiliki makna apa-apa, disamping mereka sebenarnya memang tidak memiliki pengetahuan perihal penafsiran mimpi. Mereka berkata:
“(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu” (Yusuf: 44)
Saat itu kepala tukang minuman mendengar mimpi raja dan jawaban dari para dukun dan orang-orang pintar itu. Ia pun teringat kembali pada Yusuf. Segera berkata ia pada hadirin yang ada di ruangan itu,
“Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”  (Yusuf: 45)
Akhirnya diutuslah kepala tukang minuman itu kepada Yusuf. Setelah berbincang-bincang dengan Yusuf dan menceritakan sebab-sebab kealpaannya terhadap pesan Yusuf, ia pun mengutarakan maksud kedatangannya.
“Hai Yusuf yang berkata benar, terangkanlah arti mimpi berikut: 7 ekor sapi gemuk dimakan 7 ekor sapi kurus, dan 7 batang gandum hijau berdekatan dengan 7 batang gandum kering. Berilah fatwa kepadaku hai Yusuf tentang hakikat mimpi ini, supaya aku memberitahukannya kepada orang-orang di kerajaan, barangkali mereka mengetahui (tafsir mimpi tersebut, dan juga keutamaan dan kedudukan ilmumu).” (Yusuf: 46)
Yusuf pun mulai menerangkan arti mimpi raja. Bukan hanya itu, ia menerangkan pula pemecahan kesulitan yang timbul dari arti mimpinya. Ia berkata,
“Supaya kamu bertanam 7 tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan (yakni menanami tanahmu dengan gandum dan sya’ir, kemudian hasil panenannya kamu simpan dalam batang-batang gandumnya, dan jangan boros dalam pemakaian, gunakan sekedar yang dibutuhkan saja). Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan (yakni disisakan supaya dapat digunakan sebagai bibit untuk tahun-tahun berikutnya). Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur (yakni dengan turun hujan, tanah akan menghasilkan biji-bijian yang banyak dan sari buah-buahan seperti anggur dan zaitun). (Yusuf: 47-49)
Beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa ini adalah tambahan dari Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam menerangkan takwil mimpi menurut wahyu yang diterimanya? Jawabnya: Persoalannya tidaklah demikian. Sesungguhnya perkataan tersebut juga diucapkan berdasarkan mimpi raja itu. Karena masa-masa kekeringan hanya 7 tahun. Ini menunjukkan akan datang sesudahnya tahun-tahun kesuburan penuh keberkahan, yang akan menghapus kekeringan yang terjadi pada masa paceklik yang tidak dapat terhapus oleh masa-masa subur yang biasa. Namun hanya akan hilang dengan masa subur yang luar biasa keadaannya. Ini sangat jelas dan termasuk mafhum al-’adad (dikaitkannya suatu hukum dengan jumlah tertentu, ed).
Yusuf dibebaskan dari penjara
Kepala tukang minuman segera menyampaikan tafsir mimpi yang telah diterangkan Yusuf kepada raja, maka raja pun mengirim utusan untuk memanggil Yusuf dan menjelaskan kembali secara rinci. Akan tetapi Yusuf enggan keluar dari penjara sebelum namanya dibebaskan dari segala tuduhan yang difitnahkan kepadanya. Ia minta supaya pihak kerajaan menyelidiki persekongkolan terhadap dirinya dan menanyai wanita-wanita yang menghadiri jamuan makan di rumah istri pembesar bekas majikannya dulu tentang sebab-sebab penahanannya supaya mereka menjadi saksi dalam perkaranya. Yusuf berkata:
“”Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka” (Yusuf: 50)
Permintaan Yusuf ini kemudian disampaikan oleh utusan kepada raja. Raja pun menyuruh para utusan untuk memanggil wanita-wanita itu dan menjelaskan fakta yang sebenarnya. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu):
“Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.” Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)
Mereka pun bersaksi bahwa Yusuf memang tidak bersalah, dan bahwa istri pembesar Mesir, Zulaikha, itulah yang justru merayu Yusuf. Setelah adanya kesaksian dari wanita-wanita ini, Zulaikha sendiri tidak bisa menyangkal lagi. Akhirnya ia pun mengakui perbuatannya. Yusuf berkata:
“Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (Yusuf: 52-53)
Dengan demikian keluarlah Yusuf dari penjara dengan diri yang bersih dari segala tuduhan dan fitnah. Raja kemudian juga merehabilitasi namanya di masyarakat. Allah telah mentakdirkan kezaliman yang selama ini diterima oleh Yusuf berganti dengan kemuliaan.

Pertemuan Yusuf dengan Sang Raja
Kebenaran tentang Yusuf telah menambah kepercayaaan raja kepadanya, raja berkata:
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.”
Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi). 

Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir rahimahullahu (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya

Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi rahimahullahu (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”
Mendengar hal itu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.” 

Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan Yusuf.  Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud rahimahullahu wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.” 

Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan: Dia (Raja Ar-Rayyan) berkata:
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Yusuf: 54)
Ibnul Jauzi rahimahullahu (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna مَكِينٌ أَمِينٌ adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”
Al-Muqatil rahimahullahu berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)
Al-Baghawi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.
Al-Alusi rahimahullahu dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.
Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).
Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab,
setelah mendapatkan ilham dari Allah untuk menjadi bendaharawan Mesir (lihat penjelasannya pada faidah ke-19):
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir). Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur rahimahullahu ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Negeri Mesir adalah خَزَائِنِ الْأَرْضِ. Tidakkah kalian mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.
إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (Yusuf: 55)
Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat: 

Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”  Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.

Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”  Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.

Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”

Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.
Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”

Maka diangkatlah dia menjadi menteri yang mengurusi berbagai masalah ekonomi dan keuangan bagi negara Mesir. Inilah balasan Allah kepada hamba-hambaNya yang saleh. Allah berfirman:
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. ” (Yusuf: 56-57)
Beliau aman dari tekanan peraturan (negara) dan dipersilakan untuk mengamalkan syariat Islam. Dua hal ini hanyalah sebuah khayalan dalam realita aturan-aturan di muka bumi masa ini.

Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya

Takwil mimpi yang telah diterangkan Yusuf kemudian benar-benar terwujud. Pada masa 7 tahun yang subur, Yusuf telah memerintahkan rakyat Mesir untuk menyimpan kelebihan biji-bijian dari hasil tanaman mereka. Kemudian datanglah masa paceklik pada 7 tahun berikutnya. Timbul bencana kelaparan dan kekeringan, terutama di negeri-negeri tetangga lantaran ketiadaan persiapan penduduk untuk menghadapinya, termasuk negeri Palestina dimana keluarga Yusuf tinggal.

Ya’qub dan anak-anaknya juga mengalami kesulitan ini. Ia mendengar bahwa di Mesir ada persediaan makanan yang cukup, maka ia pun menyuruh anak-anaknya, kecuali Bunyamin, untuk pergi ke Mesir dengan membawa perbekalan berupa barang-barang dan perak serta lainnya untuk ditukar dengan gandum dan sya’ir.

Tatkala mereka telah tiba di istana kerajaan Mesir dan bertemu dengan Yusuf, melihat raut wajah mereka dan pakaian mereka yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Palestina, tahulah Yusuf bahwa itu adalah saudara-saudaranya. Namun mereka tidak mengenali dirinya dikarenakan kondisi Yusuf yang sudah jauh berubah, pakaiannya yang khusus, dan logat bicaranya yang menggunakan bahasa Mesir kuno.

Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya layaknya seorang tamu, dan menimbang gandum dan sya’ir bagi mereka dengan takaran yang dilebihkan, serta memberi bekal untuk perjalanan pulang mereka. Ketika mereka bersiap-siap akan pergi, Yusuf berkata,
“Bawalah kepadaku seorang lagi saudaramu yang seayah denganmu (Bunyamin). Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan perbekalan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat bantuan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku (Yusuf: 59-60)
Mereka pun berkata,
“Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.” (Yusuf: 61)
Ketika mereka hendak berangkat pulang, Yusuf menyuruh pelayan menyisipkan kembali barang-barang saudaranya yang telah ditukar dengan gandum dan sya’ir itu ke dalam karung-karung mereka tanpa sepengetahuan mereka.Yusuf berkata:
“Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.” (Yusuf: 62)
Hal ini dimaksudkan supaya mereka merasa senang dan berbaik sangka kepadanya, sehingga mereka akan kembali lagi ke Mesir karena berharap akan mendapat lebih banyak lagi kebaikan darinya.
Saudara-saudara Yusuf kembali ke Palestina dan menceritakan tentang kebaikan dari menteri ekonomi Mesir serta penghormatan yang mereka terima. Mereka juga menyampaikan permintaan menteri Mesir itu agar mereka membawa Bunyamin jika nanti mereka hendak kembali ke Mesir. Mereka membujuk ayah mereka:
“Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya.” (Yusuf: 63)
Rupanya setelah ditinggalkan oleh Yusuf, Ya’qub sangat berduka. Berkata Ya’qub:
“Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” (Yusuf: 64)
Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata:
“Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)” (Yusuf:65)
Namun mereka terus membujuk dan mengatakan bahwa jika Bunyamin tidak mereka bawa, mereka tidak akan mendapatkan makanan lagi dari menteri Mesir itu. Ya’qub berkata:
“Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” (Yusuf:66)
Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya’qub berkata:
“Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)” (Yusuf:66)
Kemudian dia berpesan kepada anak-anak mereka sebelum pergi:
“Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (Yusuf:67)
Setiap hari ia menangis sampai matanya memutih dan buta. Mendengar permintaan yang disampaikan saudara-saudara Yusuf ini, Ya’qub tidak mempercayai mereka. Mereka juga berjanji akan menjaga Bunyamin dengan sebaik-baiknya dan tidak akan menyia-nyiakannya.
Setelah mendengar janji putra-putranya ini, hati Ya’qub sedikit lebih tentram. Akhirnya dengan berat hati Ya’qub pun mengizinkan mereka membawa Bunyamin. Ia juga berpesan pada mereka supaya masuk ke kota melalui beberapa pintu agar tidak menarik perhatian.

Yusuf menahan Bunyamin

Saat mereka datang lagi ke Mesir bersama Bunyamin, Yusuf berusaha mencari kesempatan untuk bisa berdua saja dengan Bunyamin, kemudian ia mengatakan padanya bahwa ia adalah Yusuf, saudaranya sekandung. Yusuf berkata :
“Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Yusuf:69)
Ia menceritakan tentang apa yang telah dilakukan saudara-saudaranya dulu kepadanya, dan apa yang telah terjadi padanya. Yusuf memiliki rencana untuk bisa menahan Bunyamin lebih lama bersamanya. Ketika saudara-saudara Yusuf akan pulang, Yusuf menyelipkan piala untuk minum raja ke dalam karung Bunyamin. Kemudian berteriaklah pegawai yang menyerukan:
“Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.” (Yusuf: 70)
Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu:
“Barang apakah yang hilang dari pada kamu?” (Yusuf: 71)
Penyeru-penyeru itu berkata:
“Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” (Yusuf: 72)
Saudara-saudara Yusuf menjawab
“Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri.” (Yusuf: 73)
Penyeru berkata:
“Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta? (Yusuf:74)
Saudara-saudara Yusuf menjawab:
“Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya adalah menjadi budak selama satu tahun. Ini adalah balasan yang adil bagi pencuri menurut syariat Ya’qub) . (Yusuf:75)
Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Allah mengatur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya.
Saat ditemukan piala itu dalam karung Bunyamin, saudara-saudara Yusuf sangat terkejut menyaksikan hal itu. Mereka merasa malu dengan peristiwa ini, karenanya mereka berkata,
“Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.”
Tentu saja yang mereka maksud adalah Yusuf sendiri.Yakni menurut sebagian riwayat, tatkala Rahel ibu Yusuf pergi bersama Yusuf menuju Palestina, ia membawa sebuah patung kecil milik ayahnya Laban. Laban yang merasa kehilangan patung itu kemudian mencarinya, tapi ia tidak bisa menemukannya baik pada Rahel maupun orang lain, karena Rahel telah menyembunyikannya di sela-sela perlengkapan unta yang dinaikinya. Ketika Ya’qub dan keluarganya tiba di Palestina, patung itu berada pada Yusuf dan dibuat mainan lantaran ia menyerupai boneka yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil. Itulah sebabnya Yusuf dituduh mencurinya dari rumah kakeknya Laban, padahal kenyataannya tidaklah begitu.
Yusuf memahami apa yang dimaksud saudara-saudaranya ini, dan sesungguhnya ia merasa jengkel dan kecewa terhadap mereka, tapi sikap itu tidak diperlihatkannya. Dia berkata (berbisik):
“Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.” (Yusuf: 77)
Saudara-saudara Yusuf memohon padanya agar Bunyamin dibebaskan dan mengambil salah satu dari mereka sebagai penggantinya. Mereka berkata,
“Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambilah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”(Yusuf: 78)
Maka Yusuf pun menjawab:
“Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim” (Yusuf: 79)
Saudara-saudara Yusuf merasa bingung dan putus asa. Mereka telah berjanji pada ayah mereka untuk menjaga Bunyamin dengan sebaik-baiknya. Sebelum ini mereka telah menyia-nyiakan Yusuf, jika sekarang mereka tidak membawa Bunyamin pulang, pastilah ayah mereka akan marah dan tidak mempercayai mereka. Setelah berunding dan berbisik-bisik, berkatalah yang tertua dari mereka,
“Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”(Yusuf: 80)
Namun Yusuf berkata,
“Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”(Yusuf: 81-82)
Akhirnya saudara-saudara Yusuf pulang tanpa Bunyamin. Dengan demikian siasat Yusuf untuk menahan adik kandungnya akhirnya berhasil.

Yusuf berkumpul kembali bersama keluarganya

Ya’qub sangat sedih mendengar kejadian yang menimpa Bunyamin. Ia tidak mempercayai perkataan anak-anaknya dan sangat kecewa terhadap mereka. Kendati demikian, ia memasrahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan percaya bahwa Allah pasti akan mewujudkan harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan kedua putra tercintanya itu. Ya’qub berkata:
“Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 83)
Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata:
“Aduhai duka citaku terhadap Yusuf” (Yusuf: 84)
Mereka berkata:
“Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” (Yusuf: 85)
Ya’qub menjawab:
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf:86)
Ya’qub memerintahkan anak-anaknya untuk mencari kabar tentang Yusuf dan Bunyamin. Dia berkata:
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf:87)
Putra-putranya mematuhi perintah ayah mereka, dan kembali ke Mesir.
Kepada Yusuf, mereka memohon belas kasihannya agar ia berkenan melepaskan Bunyamin.
Mereka pun mengadukan keadaan mereka yang miskin dan membutuhkan makanan dengan harapan Yusuf mau memberi mereka bahan makanan yang cukup. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata:
“Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (Yusuf:88)
Timbul rasa iba dalam hati Yusuf mendengar keluhan saudara-saudaranya, sehingga terpikir olehnya untuk mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya supaya mereka bisa tinggal bersamanya dalam keadaan sejahtera. Kemudian ia memanggil Bunyamin, lalu berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya, Yusuf berkata:
“Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu.” (Yusuf:89)
Yusuf mengingatkan perbuatan mereka memisahkan Yusuf dan ayahnya dengan membuangnya ke dalam sumur dan kepada Bunyamin dengan telah membuatnya bersedih atas kehilangan saudaranya (Yusuf) sehingga ia pun ikut menderita. Mendengar perkataan Yusuf, mulai timbul dugaan dalam diri saudara-saudaranya, jangan-jangan pembesar yang berbicara di hadapan mereka ini adalah Yusuf. Dengan berdebar-debar mereka bertanya,
“Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?.”
Yusuf menjawab:
“Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf:90)
Maka saudara-saudara Yusuf pun segera memohon ampun dan meminta maaf kepadanya atas kejahatan yang pernah mereka lakukan dahulu. Mereka berkata:
“Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf:91)
Dengan berlapang dada, Yusuf memaafkan kesalahan saudara-saudaranya. Dia (Yusuf) berkata:
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang. (Yusuf:92)
Ia lalu memerintahkan mereka untuk menjemput ayahnya beserta keluarga mereka untuk datang ke Mesir. Mengetahui bahwa ayahnya telah kehilangan penglihatan lantaran kesedihan yang amat sangat semenjak kepergiannya, Yusuf memberikan gamisnya untuk diusapkan ke wajah ayahnya supaya ia dapat melihat kembali.
“Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (Yusuf:93)
Pulanglah mereka ke tempat Ya’qub, Ya’qub dapat merasakan keberadaan Yusuf dan segera mengetahui bahwa Yusuf masih hidup. Berkata ayah mereka:
“Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf:94)
Tapi anak-anaknya tetap menyembunyikan berita tentang keadaan Yusuf . Keluarganya berkata:
“Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (Yusuf:95)
Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub:
“Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Yusuf:96)
Mereka pun akhirnya tidak mampu lagi menipu ayah mereka, karena hikmah yang Allah berikan kepada Ya’qub ‘alaihissalam. Mereka berkata:
“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf:97)
Ya’qub memaafkan kesalahan mereka. Ya’qub berkata:
“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf:98)
Mereka akhirnya menceritakan hal-ihwal tentang Yusuf dan Bunyamin, kemudian mereka membawa Ayah dan Bibinya kepada Yusuf. Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata:
“Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (Yusuf:99)
Akhirnya Yusuf pun dapat berkumpul kembali dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya di Mesir. Ya’qub dan anak-anaknya telah diliputi rasa hormat kepada Yusuf yang telah diberi kemuliaan oleh Allah. Mereka pun memberikan penghormatan kepadanya dengan cara menundukkan kepala sesuai dengan adat pada masa itu dalam menghormati pembesar yang berkuasa. Melihat ini, Yusuf teringat akan mimpinya dulu ketika ia masih kecil, maka ia berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku (yakni mimpi melihat 11 bintang serta matahari dan bulan bersujud kepadanya sebagaimana di atas-red) yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf:100)
Kemudian Yusuf bersyukur dan berdo’a:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf:101)
Beberapa Pelajaran dan Faidah dari Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam

1. Diterangkan dalam kisah ini berbagai landasan pokok tentang ta’bir atau tafsir mimpi. Ilmu ta’bir mimpi ini adalah ilmu yang cukup penting yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan umumnya, hal-hal yang berkaitan serta dijadikan permisalan (tamtsil) dan penyerupaan adalah tentang sifat atau keadaan.

2. Di dalamnya terdapat dalil atau bukti tentang kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan diceritakannya sejarah ini secara terperinci dan panjang lebar kepada beliau sesuai kenyataan, yang mempunyai maksud dan tujuan yang jelas. Padahal beliau tidak (bisa) membaca kitab orang-orang terdahulu. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah belajar kepada seorangpun, sebagaimana yang jelas diketahui oleh kaumnya. Beliau sendiri adalah seorang ummi, tidak pandai membaca dan menulis. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Demikian itu di antara berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak berada di sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya dan mengatur tipu daya.” (Yusuf: 102)
3. Sepantasnya seorang manusia menjauhi faktor-faktor atau jalan yang mendorongnya kepada kejahatan. Dan hendaknya dia menyembunyikan hal-hal yang dikhawatirkan menimbulkan kemudaratan bagi dirinya. Sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub kepada Yusuf dalam kisah ini:
“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.” (Yusuf: 5)
4. Bolehnya menerangkan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada seseorang dengan jujur dan sebagai nasehat bagi dirinya dan orang lain yang terkait. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Nabi Ya’qub di atas.
5. Bahwa kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seseorang adalah nikmat pula bagi orang-orang yang berkaitan atau berhubungan dengannya, baik keluarga, kerabat, ataupun sahabat-sahabatnya. Tentunya semua itu mencakup atau meliputi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub.” (Yusuf: 6)
Yaitu dengan semua yang engkau terima. Oleh karena itu, ketika nikmat itu semakin sempuna dirasakan oleh Nabi Yusuf, keluarga Nabi Ya’qub juga mendapatkan kemuliaan, kekuasaan dan kegembiraan. Hilanglah hal-hal yang tidak menyenangkan yang selama ini mereka rasakan dengan munculnya hal-hal yang menyenangkan sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir kisah ini.

6. Nikmat paling besar yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia adalah nikmat diniyah (agama Islam). Dan semua itu harus ada sebab-sebab yang mendahuluinya serta jalan-jalan yang membawa kepada kenikmatan ini. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala –Yang Maha Memiliki hikmah dan mempunyai sunnah (aturan) yang tidak berubah– telah menetapkan bahwa cita-cita yang tinggi tidak mungkin tercapai kecuali dengan sebab yang bermanfaat. Khususnya dalam hal ini adalah ilmu bermanfaat berikut cabang-cabangnya, seperti akhlak dan perbuatan. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub mengetahui bahwa Yusuf telah mencapai kedudukan yang mulia ini, di mana ayah ibunya serta saudara-saudaranya tunduk hormat kepadanya. Semua ini sudah tentu dengan kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi Yusuf untuk menempuh sebab atau jalan menuju derajat yang tinggi ini. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan demikianlah Rabbmu, telah memilih kamu dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.” (Yusuf: 6)
7. Sikap adil adalah perkara yang sangat dituntut dalam setiap permasalahan. Dalam masalah hubungan penguasa dan rakyatnya, kedua orang tua dengan anak-anaknya, hak-hak para isteri, dan lain-lain yang juga berkaitan dengan hubungan kasih sayang dan itsar (mengutamakan orang lain). Menegakkan keadilan dalam setiap permasalahan ini akan berbuah keserasian semua persoalan besar dan kecil sekaligus akan mendatangkan segala sesuatu yang disenangi. Sebaliknya, apabila keadilan itu tidak ada, jelas akan menyebabkan kerusakan dan hal-hal yang tidak menyenangkan tanpa terasa. Karena itulah ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam melebihkan rasa kasih sayangnya terhadap Yusuf menimbulkan ketidaksenangan pada saudara-saudara Yusuf terhadap ayah dan saudara mereka ini.

8. Peringatan keras tentang bahayanya dosa. Betapa banyak dosa yang melahirkan dosa-dosa berikutnya. Perhatikan kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf. Mereka ingin memisahkan Yusuf dari ayahnya, dan ini adalah suatu kejahatan. Kemudian mereka melancarkan berbagai muslihat. Mereka berdusta hingga beberapa kali, misalnya dengan menunjukkan baju Nabi Yusuf yang berlumur darah palsu kepada Ya’qub. Juga ketika mereka pulang sore hari sambil menangis. Jelas bahwa ucapan-ucapan yang terdapat dalam kasus ini berantai dan berbelit-belit.

Bahkan tidak jarang hal ini berlanjut ketika mereka berkumpul dengan Yusuf dan setiap kali membahas masalah ini. Namun semuanya adalah dusta dan palsu, dengan musibah yang terus menimpa Nabi Ya’qub serta Nabi Yusuf. Maka hendaklah seorang manusia berhati-hati dari perbuatan dosa, terutama dosa yang datang susul menyusul.

Lawan dari ini semua adalah sebagian ketaatan, yang merupakan satu ketaatan, akan tetapi manfaatnya berkelanjutan. Demikian pula berkahnya. Bahkan semua ini dapat dirasakan tidak hanya oleh pelakunya, tapi juga oleh orang lain. Semua ini merupakan pengaruh paling besar dari berkah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seseorang baik dalam ilmu dan amalannya.

9. Pelajaran berharga bagi seorang hamba bergantung kepada kesempurnaan di akhir perjalanan, bukan pada kekurangan yang ada di awalnya. Begitu pula halnya anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Terjadi berbagai kekeliruan di awal kisah kehidupan mereka. Kemudian semua itu berujung pada taubat nashuha (taubat yang benar), pengakuan yang tulus, dan pemaafan yang sempurna dari Yusuf dan ayah mereka, serta doa kebaikan dan ampunan serta rahmat bagi mereka. Kalau seorang manusia telah memberikan keringanan atau memaafkan seseorang berkaitan dengan suatu hak tertentu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih berhak berbuat demikian. Dan Dia adalah Sebaik-baik Yang Penyayang lagi Maha Pengampun.

Oleh karena itulah yang paling benar dari semua pendapat yang ada bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan mereka sebagai nabi dengan menghapus semua kekeliruan yang telah mereka lakukan. Seakan-akan pernyataan ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan (beriman) pula dengan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan al-asbath.” (Ali ‘Imran: 84)
Al-Asbath adalah anak-anak Ya’qub yang duabelas orang dan anak cucu mereka. Pendapat ini diperkuat dengan mimpi yang dilihat Nabi Yusuf bahwa mereka adalah bintang-bintang, yang mempunyai cahaya dan petunjuk. Semua ini adalah sifat-sifat yang juga terdapat pada diri para nabi. Seandainya mereka bukan tergolong nabi, mereka adalah para ulama di kalangan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

10. Dalam kisah ini diterangkan betapa besar anugerah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Yusuf berupa ilmu, hilm (kelemahlembutan/tidak tergesa-gesa), akhlak yang mulia, berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada agama-Nya. Juga pemberian maaf yang segera dilakukannya terhadap saudara-saudaranya yang bersalah. Hal itu semakin lengkap ketika beliau mengatakan bahwa tidak ada cercaan atas mereka sesudah pemaafan ini. Kemudian kebajikannya yang besar kepada kedua ibu bapaknya, limpahan kebaikannya kepada saudara-saudaranya serta makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala pada umumnya. Semua ini sangat jelas tergambar dalam sejarah hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
11. Sebagian kejahatan lebih ringan dari yang lain. Menempuh suatu kemudaratan yang lebih ringan dari dua mudarat yang ada jelas lebih utama. Maka tatkala saudara-saudara Nabi Yusuf mengatakan (dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala):
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah.” (Yusuf: 9)
Lalu ada yang memberikan saran (dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala):
“Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah dia ke dasar sumur supaya dipungut oleh sebagian musafir, kalau kamu hendak berbuat.” (Yusuf: 10)
Tentunya perkataan ini lebih baik dari pendapat yang lain dan lebih ringan. Sehingga berdasarkan hal ini pula menjadi ringan pula dosa mereka. Ini merupakan sebagian dari sebab atau jalan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan bagi Nabi Yusuf untuk mencapai derajat yang diinginkan.

12. Segala sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha dan menjadi bagian dari harta, namun orang-orang yang mengusahakannya tidak mengetahui bahwa itu tidak dilandasi syariat, maka tidak ada dosa bagi yang langsung memperjualbelikannya, memanfaatkan, atau menggunakan untuk suatu kepentingan. Dalam kisah ini, boleh dikatakan Nabi Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya dengan cara yang (sesungguhnya) diharamkan bagi mereka. Kemudian beliau dibeli oleh sebagian musafir berdasarkan anggapan bahwa beliau adalah budak saudara-saudaranya. Setelah itu mereka membawanya ke Mesir dan menjualnya kembali. Tinggallah beliau bersama majikannya sebagai seoang pelayan atau budak. Namun di tengah-tengah mereka, Nabi Yusuf adalah seorang pelayan yang dihormati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan jual beli yang dilakukan musafir itu muamalah, dengan alasan yang telah kami paparkan.

13. Dalam kisah ini disebutkan bahaya berkhalwat (berduaan) dengan wanita ajnabiyah (bukan isteri atau budak dan bukan mahram), khususnya wanita-wanita yang dikhawatirkan akan menjerumuskan kepada fitnah. Juga anjuran agar menjauhi perasaan cinta atau suka yang dapat menimbulkan mudarat. Dalam kisah ini, disebutkan bagaimana isteri pembesar tersebut mengalami hal ini karena sendirian bersama Yusuf ditambah lagi rasa cinta yang demikian hebat sehingga akhirnya dia menggoda Yusuf dengan cara sedemikian rupa.

14. Keinginan yang ada dalam diri Nabi Yusuf yang kemudian beliau tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena bukti keimanan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan dalam hatinya, termasuk hal-hal yang menaikkan derajat beliau semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena suatu keinginan adalah salah satu faktor pendorong yang timbul dari hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan. Ini adalah naluri atau tabiat yang ada pada anak Adam (manusia).
Maka apabila keinginan itu terlaksana dengan kemaksiatan dan tidak ada sesuatu, baik keimanan ataupun rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghalanginya dari kemaksiatan itu, maka dia telah terjatuh kepada dosa. Dan jika seseorang itu beriman sempurna, maka keinginan naluriah ini apabila dihadapi oleh iman yang benar dan kuat, akan mencegahnya dari pengaruh yang ditimbulkan oleh keinginan tersebut, meskipun dorongan itu demikian hebat. Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam berada di atas tingkatan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Andaikata dia tidak melihat tanda dari Rabbnya.” (Yusuf: 24)
Hal ini ditunjukkan pula dalam ayat:
“Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakannya, dan kekuatan iman serta keikhlasannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan beliau agar tidak terjerumus kepada perbuatan dosa. Jelas dari kisah ini bahwa Nabi Yusuf adalah termasuk segelintir manusia yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Beliau termasuk yang paling tinggi derajatnya di antara 7 golongan dari orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lindungi dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan dalam sabda beliau bahwa salah satu dari tujuh golongan itu adalah seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita kaya dan cantik jelita, namun laki-laki itu berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah dalam Shahih-nya, no. 620, 1334, 6308.)

Sementara keinginan wanita itu yang tidak ada yang menghalanginya, tetap mendorongnya untuk merayu Nabi Yusuf. Adapun keinginan yang muncul pada Nabi Yusuf kemudian lenyap dengan seketika setelah melihat burhan (tanda) dari Rabbnya.

15. Keimanan yang telah tertanam dalam kalbu seseorang, kemudian hati itu diterangi cahaya ma’rifat (pengenalan) dan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segenap keadaannya. Allah Subhanahu wa Ta’alaakan menjauhkannya dari setiap kejahatan dan kekejian dengan tanda keimanannya itu. Bahkan juga menjauhkannya dari berbagai jalan kemaksiatan sebagai balasan keimanan dan keikhlasannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa hal-hal inilah yang menjadi alasan Dia menjauhkan kejelekan dan kekejian itu dari Nabi Yusuf. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlis (berbuat ikhlas).” (Yusuf: 24)
Arti seperti ini apabila disandarkan kepada bacaan yang melafadzkan bunyi lam pada kata mukhlas dikasrah (berbunyi i), sehingga dibaca mukhlis yang artinya sebagaimana yang tercantum. Sedangkan menurut bacaan yang melafalkan lam dengan bunyi a tadi (mukhlash), artinya ialah apabila seorang hamba yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala bersihkan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih, maka tentulah dia seorang yang mukhlis, dengan demikian kedua pengertian ini saling berkaitan.

16. Apabila seseorang diuji dengan berada di tempat yang mengandung fitnah dan jalan yang membawa kepada kemaksiatan, hendaknya dia segera berupaya menghindar dan meninggalkan tempat itu semampunya agar selamat dari kejahatan tersebut. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf yang menyelamatkan dirinya menuju pintu keluar sementara wanita itu berusaha menarik bajunya dari belakang.

17. Suatu qarinah (indikasi) atau hal-hal yang mendukung dapat digunakan ketika terjadinya kesamaran dalam suatu tuduhan. Artinya, perlunya saksi dalam menentukan suatu keputusan dari suatu kasus, di mana dalam kasus Nabi Yusuf ini ditetapkan dengan adanya qarinah (tanda yang mendukung). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Jika bajunya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika bajunya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 26-27)
Akhirnya keputusannya sesuai dengan fakta yang benar. Juga qarinah terdapatnya piala raja di dalam karung saudaranya, ketika para penjaga itu menyebutkan bahwa mereka kehilangan piala raja.

17. Dalam kisah disebutkan tentang ketampanan lahir batin yang dimiliki Nabi Yusuf. Dari ketampanan lahiriah yang dimilikinya menyebabkan tumbuhnya rasa cinta begitu hebat dalam diri wanita bangsawan itu. Dan ketika dia mendengar para wanita di kota itu mencelanya, dia mengundang mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau, lalu dia berkata (kepada Yusuf): ”Keluarlah kepada mereka!” Tatkala para wanita itu melihatnya, mereka kagum akan (ketampanannya), dan mereka mengiris jari mereka dan berkata: “Maha Suci Allah. Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.” (Yusuf: 31)
Sedangkan keindahan batin beliau, terlihat dari sikap ‘iffah (menjaga kehormatan) yang besar pada diri beliau, seiring dengan adanya dorongan yang kuat untuk terjerumus kepada kemaksiatan. Akan tetapi cahaya keimanan dan kekuatan keikhlasan yang tidak mungkin seorang mulia menyimpang dari keduanya, dan tidak mungkin terkumpul pada orang yang hina (telah menahan beliau dari semua itu).

Bahkan telah dijelaskan pula oleh isteri pembesar itu bahwa dua karakter (kecantikan lahir dan batin) ini ada pada diri Nabi Yusuf. Yakni, ketika dia memperlihatkan kepada para wanita itu kecantikan lahiriah yang diakui pula oleh mereka bahwa kecantikan ini tidak mungkin ada pada manusia, isteri pembesar itu berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam ayat:
“Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya kepadaku, tapi dia menolak.” (Yusuf: 32)
Kemudian dia mengatakan pula sesudah perkataan itu:
“Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya kepadaku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)
18. Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih dipenjara daripada terjerumus kepada kemaksiatan. Demikianlah seharusnya ketika seseorang dihadapkan kepada satu dari dua pilihan; jatuh kepada kemaksiatan atau menerima hukuman dunia. Seharusnya dia memilih hukuman duniawi yang justru di balik itu terdapat pahala dari beberapa sisi, pahala atas pilihannya terhadap keimanannya daripada keselamatan dari hukuman dunia, pahala dari segi bahwa hal ini adalah bentuk penyucian dan pemurnian seorang mukmin, di mana hal ini termasuk dalam kerangka jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga pahala dari sisi musibah yang diterimanya serta sakit yang dirasakannya. Maha Suci Allah yang memberikan kenikmatan dan menunjukkan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba pilihan-Nya melalui cobaan atau ujian-Nya. Hal ini juga merupakan tanda-tanda keimanan dan kebahagiaan.

19. Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak meminta jabatan sebagaimana yang disangkahkan sebagian orang yang memahami ayat Yusuf: 55 . Nabi Yusuf tidak meminta kepemimpinan, namun ditawarkan kepada beliau , sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayat (lihat tawaran Raja Mesir pada Yusuf:54 -admin). Yang ada dalam ucapan beliau: “Jadikan aku bendaharawan negeri (Mesir)” adalah keterangan tentang spesialisasinya dan pilihannya. Ahli balaghah (sastra Arab) dapat membedakan antara kata الْحَافِظُ (yang berarti menjaga) dengan kata الْحَفِيظُ (yang sangat pandai menjaga), juga antara kata الْعَالِمُ(yang berilmu) dengan kata الْعَلِيمُ (yang sangat berpengetahuan). Maka perhatikan hal ini, karena sesungguhnya ini termasuk rahasia-rahasia Al-Qur`an yang penuh hikmah.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin rahimahullahu, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menugaskan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di daerah Bahrain. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu datang membawa uang 10.000. Maka Umar mengatakan kepadanya: “Apakah engkau peruntukkan harta ini untuk kepentingan pribadimu, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya?!”
Maka Abu Hurairah menjawab: “Aku bukan musuh Allah ataupun musuh kitab-Nya, akan tetapi justru musuh yang memusuhi keduanya.”
Umar menukas: “Lalu darimana hartamu ini?”
“Itu adalah kuda yang berkembang biak, dan hasil kerjaan budakku, serta pemberian yang datang beberapa kali,” jawab Abu Hurairah.
Mereka pun memeriksanya. Ternyata mereka mendapatkannya seperti apa yang dikatakan Abu Hurairah. Setelah hal itu berlalu, Umar memanggil Abu Hurairah untuk ditugaskan kembali akan tetapi beliau menolak. Maka Umar berkata: “Apakah kamu tidak suka jabatan ini, padahal telah memintanya orang yang lebih baik darimu, Yusuf ‘alaihissalam?”
Abu Hurairah menjawab: Yusuf adalah seorang nabi, putra seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan saya, Abu Hurairah, putra seorang ibu yang kecil. Dan aku khawatir tiga tambah dua (perkara -pent).”
Umar berkata: “Tidakkah kamu katakan lima saja?”
Abu Hurairah menjawab: “Saya khawatir berkata tanpa ilmu, memutuskan tanpa kesabaran dan pikir panjang, takut punggungku dicambuk, hartaku diambil dan kehormatanku dicela.” (Riwayat Ibnu Sa’d dalam kitab Thabaqat Al-Kubra (4/335). Dalam sanadnya Abu Hilal Ar-Rasibi dan dia –walaupun haditsnya tidak sangat dibuang– tapi juga didukung dalam riwayat ini oleh Ayyub As-Sikhtiyani sebagaimana dalam kitab As-Siyar karya Adz-Dzahabi (2/612). Dengan itu, riwayat ini menjadi shahih)
Nabi Yusuf melakukan apa yang beliau lakukan pada tugasnya tersebut dengan posisi beliau sebagai seorang rasul. Seandainya pun seseorang diperbolehkan mengikuti beliau dalam urusan itu, maka pewarisnya secara syar’i adalah seorang mujtahid. Ibnu Abdil Bar berkata: “Bila yang demikian itu (menyebut keahliannya dalam kondisi terpaksa -pent), maka boleh bagi seorang ulama saat itu untuk memuji dirinya dan mengingatkan tentang kedudukannya, maka saat itu berarti dia membicarakan nikmat Allah pada dirinya dalam rangka mensyukurinya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi, 1/176). Wallahu a’lam.

Sumber:
  1. Nabi Yusuf Alaihissalam. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/15/yusuf/.
  2. Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Diambil dari kitab Taisir Al-Lathif Al-Manan fi Khulashah Tafsiri Al-Qur`an karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib.
  3. Kisah Nabi Yusuf dan Meminta Jabatan. Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=772.
  4. Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur`an. Penulis : Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin. http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=773.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar