Jumat, 11 Februari 2011

FILSAFAT AR RAZY


1.a. Kehidupannya
Ar-Razi Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi dilahirkan di Ray dekat Teheran, sekitar pada tahun 865 M / 251 H. Ar-Razi masih mempunyai hubungan darah dengan bangsa Persia dan hidup pada masa kejayaan Daulah Abasiyah. Dikala mudanya ia banyak menumpukan perhatiannya untuk mempelajari matematika, kedokteran dan filsafat alam ( natural philosophy) serta logika. Adapun gurunya yang banyak berjasa kepada Ar-Razi hingga menjadi seorang Physician dan filosof terkenal adalah Hunyn bin Ishak.[1]

Ar-Razi juga banyak menimba ilmu-ilmu lainnya dari Abu Al-Husen Ali bin Rin Ath-Thabari. Ia pindah ke Bahgdad dan menjabat sebagai ketua rumah sakit Al-Adhudi. Dipenghujung usianya, Ar-Razi mnejadi buta, kemudian wafat di Baghdad pada tahun 320 H / 924 M.[2]

Karir Ar-Razi sebagai intelektual tampak dengan jelas dari buku-bukunya yang tidak kurang dari 200 jilid banyaknya tentang medis, astronomi, kosmologi, kimia, filsafat dan sebagainya.[3]

Ar-Razi terkenal di Barat dengan nama Rhezes dari buku-bukunya tentang ilmu kedoteran. Bukunya yang terkenal adalah tentang cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bebagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih dicetak untuk yang keempat puluh kalinya. Al Hawi merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20 jilid dan mengandung ilmu kedokteran Yunani, Syria, dan Arab.[4]

Adapun karya-karya Ar-Razi yang masih dapat dinikmati sampai sekarangmeskipun buku-buku tersebut dihimpun dalam satu kitab yang dikarang oleh orang lain adalah:
Ÿ         Al-Tibb al-Ruhani
Ÿ         Al-Shirath al-Falasafiyah
Ÿ         Amarat Iqbal al Daulah
Ÿ         Kitab al-ladzdzah
Ÿ         Kitab al Ibnu al Ilahi
Ÿ         Makalah fi mabadd altalbiah
Ÿ         Al Syukur ’Ala Proclas[5]
Ar-Razi dalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendaptnya meskipun pendapat tersebut bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam yaitu:
  1. Tidak percaya pada wahyu
  2. Al-Qur’an bukan mu’jizat
  3. Tidak percaya pada Nabi-Nabi
  4. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan[6]
Meskipun beberapa pemikiran Ar-Razi bertentangan dangan kepercayaan umat Islam, pemikirannya telah memberi warna tersendiri dalam filsafat Islam. Terutama tentang kebesan berfikir dan menemukan kebenaran dalam menggunakan akal.[7]


b. Akal dan Agama
Corak Pemikaran Ar-Razi adalah rasionalis elektis. Rasional artinya ia selau mencari kebenaran dengan pangkal tolak kekuatan akal dan elektis artinya selektif[8]. Hal ini tampak dalam halaman pendahuluan karyanya, al-Thib al-Ruhani, ia menulis : ” Tuhan segala puji bagi-Nya, yang telah memberi kita akal agar denganya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat; inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat yang berguna untuk kita dan yang membuat hidup kita baik, dengan akal kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi dari kita. Dengan akal pula kita dapat mengetahui tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh. Jika akal sedemikian mulia dan penting maka kita tidak boleh melecehkannya, kita tidak boleh menentukannya, sebab dia adalah penentu, atau mengendalikanya sebab dia adalah pengendali, atau memerintahkannya sebab dia adalah pemerintah, tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal dan menentukan masalah dengannya; kita harus sesuai dengan perintahnya.[9]

Menurut Ar-Razi kita hendaknya mengembalikan segala urusan kepada akal; merubahnya dengan berpatokan kepadanya; bersandar kepadanya dalam segalanya. Kita juga harus menjalankan segala urusan sesuai ketentuannya; berhenti karena arahnya. Kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan akal. Karena nafsu adalah ancaman baginya yang mengeruhkan kejernihannya; memalingkannya dari jalan, cinta, tujuan dan konsistensinya.[10]

Ar-Razi tidak percaya kepada Nabi-Nabi, sebab Nabi itu hanyalah pembawa kehancuran bagi manusia, ajaran Nabi-Nabi itu saling bertentangan, pertentangan itu akan membawa kehancuran manusia.[11] 

Menurutnya para Nabi tidak berhak mengklim bahwa dirinya memiliki keistimewaan khusus, baik fikiran maupun rohani, karena semua orang itu adalah sama dan keadilan tuhan serta hikmah-Nya mengharuskanya untuk tidak membedakanya antara seorang dengan yang lainnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwasanya tidaklah masuk akal bahwa tuhan mengutus para Nabi padahal mereka tidak luput dari pada kesalahan dan kekliruan. Setiap bangasa hanya percaya kepada Nabinya dan tidak percaya kepada Nabi bangsa  lain. Dan akibat dari inilah banyak terjadi konflik, peperangan dan kebencian antara bangasa karena kefanatikan kepada agama bangsa yang dianutnya.[12] 

Begitu juga dengan wahyu yang didakwahkan oleh para Nabi kebenrannya tidaklah benar adanya. Al-Qur’an dengan gaya bahasanya bukanlah mu’jizat bagi Nabi Muhammad ia hanya sebagai buku biasa. Nikmat akal lebihlah konkrit dari wahyu oleh sebab itu membaca buku-buku filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya lebih berarti dari pada membaca buku-buku agama.[13] 

Keberlangsungan agama hanyalah berasal dari tradisi, dari kepentingan para ulama yang diperalat oleh negara, dan dari upacara-upacara yang menyilaukan mata orang bodoh.[14]
Tidak mengherankan kalau pandangan hidup Ar-Razi membangkitkan banyak perlawanan dalam lingkaran tradisonal. Keahliannya dalam bidang kedokteran dipuja akan tetapi filsafatnya pada umumnya dicela disebabkan banyak mengandung kufurat. Tatkala diakhir hayatnya Ar-Razi mengalami kebutaan maka dikatakan bahwa itu adalah azab dan murka dari Allah karena anggapan liarnya. Karyanya juga sudah mendapatkan kecaman semasa dia hidup. Krtikan paling pedas terhadap karyanya adalah seorang ulama yang sebangsa dengannya juga yakni Abu Hatim Ar-Razi (933) dalam a’lam annubuwat. Berkat dari kritikan itu maka ajaran Ar-Razi dapat diketahui, karena tulisan aslinya telas musnah.[15]


c. Prinsip Tentang Lima yang Abadi
Filsafat Al-Razi dikenal dengan ajarannya “ Lima Kekal”, yakni :
  1. Al-Bari Ta’ala, Tuhan Pencipta Yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna.
  2. An-Nafsul- Kulliyah, Jiwa yang Universal yang hidup dari jasad ke jasad sampai suatu waktu menemukan kebebasan yang hakiki.
  3. 3. Al-Hayulal-Ula, materi pertama yang dari padanya Tuhan menciptakan dunia. Materi ini terdiri dari atom-atom yang mempunyai volume. Atom-atom ini mengisi ruang sesuai dengan kepadatannya. Atom tanah adalah yang paling padat, kemudian menyusul air, hawa dan api.
  4. 4. Al-Makanul-Mutlaq, ruang yang absolut, abadi tanpa awal dan tanpa akhir.
  5. 5. Az-Zamanul- Mutlaq, masa yang absolut, abadi tanpa awal dan tanpa akhir.[16]
Dari lima kekelan itu ada dua yang hidup dan bergerak yakni, Tuhan dan ruh yang pasif dan yang tidak hidup adalah materi pembentuk setiap wujud dan dua lagi yang tidak hidup, tidak bergerak dan tidak pasif yaitu kehampaan dan keberlangsungan[17]
Benda tidak dapat terlepas dari yang lima ini sebab:
  1. Setiap benda perlu ada yang menciptakannya. Sebab itu ia perlu kepada Tuhan Pencipta.
  2. Diantara benda ada yang hidup. Hidup memerlukan roh. Sebab itu perlu adanya roh.
  3. Benda adalah materi, yang dengannya ia dapat diinderai.
  4. Materi mengambil tempat, sebab itu perlu ruang untuk sebagai tempatnya.
  5. Materi mengalami perubahan, perubahan terjadi dalam waktu.
Hanya tentang zaman Ar-Razi membaginya atas dua bentuk, ada zaman yang absolut dan ada zaman yang reltif. Zaman yang absolut bersifat abadi tidak berawal dan tidak berakhir, tetapi zaman yang relatif dapat disifati dengan angaka.
Menurut Dr. T.J. De Beor bahwa dasar-dasar metafisika Ar-Razi berasal dari doktrin-doktrin tua  seumpama pemikiran-pemikiran Anaxagoras, Empedokles, Mani dan lain-lain. Puncak dari metafisikanya itulah Prinsip Tentang Lima Yang Abadi (five co-eternal prinsiples)[18]


d. Hubungan Jiwa dan Materi
Allah adalah Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam ini. Alam diciptakan Allah bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang telah ada . karena itu, alam semestinya tidak kekal, sekalipun materi awal kekal, sebab penciptaan disini dalam arti disusun dari bahan yang telah ada.
Jiwa universal merupakan al-mabda’ al-qadim al-sany (sumber kekal yang kedua). Pada benda-benda alam terdapat daya hidup dan gerak– sulit diketahui karena ia tanpa bentuk–yang berasal dari jiwa universal yang juga bersifat kekal. Tetapi karena ia dikuasai naluri untuk bersatu dengan al-hayula al-ula (materi pertama), maka terjadilah pada zatnya bentuk yang dapat menerima fisik. Sedang materi pertama tanpa fisik maka Tuhan datang menolong roh dengan menciptakan alam semesta termasuk tubuh manusia yang ditempati roh, agar jiwa itu dapat melampiaskan nafsu jahatnya dengan mengambil bagian kesenangan-kesenangan materil untuk sementara waktu.[19]

Kemudian sebagai alat bagi roh dalam mengenyam dunia Tuhan menciptakan manusia. Manusia inilah yang ditempati oleh jiwa. Setelah jiwa menempati materi jasad manusia ia pun lupa kepada tujuan yang sejati, yang berada diluar materi, ia asik mengenyam kesengan materil yang sensitif.[20] Tuhan menciptakan manusia guna menyadarkan ruh dan menunjukan bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti hakiki.
Manusia tidak akan mencapai dunia hakiki ini, kecuali dengan filsafat. Mereka yang mempelajari filsafat dan mengetahui dunia hakiki dan memperoleh pengetahuan akan selamat dari keadaan buruknya. Ruh-ruh ini akan tetap berada di dunia sampai ia disadarkan oleh filsafat akan rahasia dirinya kemudian akan diarahkan keepada dunia hakiki. Melalui filsafat manusia dapat memperoleh dunia yang sebenarnya, dunia sejati
atau dunia hakiki.[21]


e. Moral
Adapun pikiran Ar-Razi tentang moral, sebagaimana tertuang dalam bukunya Al-Thib al-Ruhani dan al-Sirah al-falsafiyyah, bahwa tingkah laku pun mesti berdasrkan kepada petunjuk rasio. Hawa nafsu haruslah berada pada kendali akal dan agama. Ia memperingatkan bahaya minuman khamar yang dapat merusak akal dan melanggar ajaran agama, bahkan dapat mengakibatkan menderita penyakit jiwa dan raga yang pada gilirannya akan menghancurkan manusia.[22]

Dusta adalah suatu kebiasaan buruk. Dusta dibedakan kepada dua: untuk kebaikan yang bersifat terpuji, dan untuk kejahatan yang bersifat tercela. Jadi, nilai dusta terletak pada niat. Demikian pula dengan kekikiran, nilainya terletak pada alasan melakukannya. Bila kikiran tersebut disebabkan rasa takut menjadi miskin dan rasa takut akan masa depan, maka hal itu tidaklah buruk. Karena itu, harus ada pembenaran apabila kikiran orang tersebut mempunyai alasan yang dapat diterima, maka ini bukanlah kejahatan. Tetapi bila yang terjadi justru sebaliknya maka hal yang demikian haruslah diperangi.[23]


f. Kesimpulan
Ar-Razi adalah filosof yang hidup pada masa pendewaan akal secara berlebihan. Hal ini sebagaimana Mu’tazilah yang merupakan  theologi dalam Islam. Apabila ar-Razi seorang muslim maka dia bukanlah seorang muslim yang sempurna disebabkan ketidak percayaannya kepada wahyu dan kenabian. Akan tetapi Ar-Razi tetap dipandang pada masanya sebagai seorang yang tegar dan liberal didalam Islam. Bahkan dalam sejarah Ar-Razi adalah seorang yang dikenal sebagai seorang rasional murni dan sangat mempercayai akal, bebas dari prasangka serta terlalu berani dalam mengeluarkan gagasan filosofinya.[24]

Dan untuk mengakhiri makalah ini saya akan menukil pernyataan Al-Ghazali mengenai persoalan-persoalan yang terdapat dalam karya-karya filosof Islam yang menurutnya dapat merusak ajaran Islam. Al-Ghazali mencatat ada dua puluh persoalan, dari dua puluh persoalan tersebut tujuh belas diantaranya dipandang sebagai pembaharuan yang tercela (bid’ah). Dan tiga diantaranya yakni pandangan filosof tentang (1) yakni badan manusia tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat, akan tetapi jiwa yang dicabut dari badan yang akan diberi balasan baik atau hukuman. Dan baik pahala atau hukum tersebut adalah dalam bentuk spritual dan bukan bentuk jasmaniah (2) Tuhan yang maha Mulia hanya mengetahui hal-hal yang universal dan bukan yang partikular dan (3) bahwa dunia ini kadim[25] baik waktu yang lalu maupun yang akan datang. Oleh Al-Ghazali ketiga pandangan itu menyebabkan para filosof dapat dipandang kafir.[26]

REFERENSI
1.  Yusril Ali, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara
2.  Dr. Ismail Asy-Syarafa, Ensklopedi Filsafat, Jakarta : Khalifa
3.  Harun Nasution, Fisafat dan Mistisme Dlam Islam, Jakarta : Bulan Bintang
4.  Hasymsyah Naution, Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama
5.  Bagus Takwin, Filsafat Timur
6.  Drs. H. A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka
7. JMW. Bakker SY, Sejarah Filsafat Dalam Islam, Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisus
8. Misla Muhammad Amien, Epistimologi Islam, Jakarta : UIP
9. Agusa Purwanda, Teologi Filsafat dan Sains, Malang: UMM Press, 2002, Cet I

[1] Yusril Ali, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, cet I, hal. 34
[2] Dr. Ismail Asy-Syarafa, Ensklopedi Filsafat, Jakarta : Khalifa, Cet I, hal. 106
[3] Yusril Ali, Op.Cit, hal. 34
[4] Harun Nasution, Fisafat dan Mistisme Dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang, hal.15
[5] Drs. H. A Mustofa, Filosafat Islam, Bandung: Pustaka Setia , hal.117
[6] Harun Nasution, Op.Cit, hal 19
[7] Bagus Takwin, Filsafat Timur, hal. 123
[8] Misla Muhammad Amien, Epistimologi Islam, Jakarta: UIP, hal. 46
[9] Hasymsyah Naution, Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, Cet III, hal.26
[10] Dr. Ismail Asy-Syarafa, Op.Cit, hal. 107
[11] Yusril Ali, Op.Cit, hal.35
[12] Hasymsyah Nasution, Op.Cit, hal. 27
[13] Yusril Ali, Op.Cit, hal. 36
[14] Hasymsyah Nasution, Op.Cit, hal. 27
[15] JMW. Bakker SY, Sejarah Filsafat Dalam Islam, Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisus, Cet I, hal. 43-44
[16] Yusril Ali,Op.Cit, hal. 37
[17] Drs. H. A. Mustofa, Op.Cit, hal. 120
[18] Yusril Ali, Op.Cit, hal.38
[19] Hasymsyah Nasution, Op.Cit, hal. 26-27
[20] Yusril Ali, Op.Cit, hal.38
[21] Drs. H. A. Mustofa, Op.Cit, hal
[22] Hasyimsyah Nasution, Op.Cit, hal.20
[23] Op.Cit, hal. 21
[24] Drs. H.A Mustofa, Op.Cit, hal. 125
[25] Terdahulu dari tiap-tiap permulaan; awal daris segala permulaan yang tidak terbatas oleh masa.
[26] Agusa Purwanda, Teologi Filsafat dan Sains, Malang: UMM Press, 2002, Cet I, hal. 29

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar