Minggu, 01 November 2009

Antara Aku, Kaca Cermin Dan Kekasih Hati

 
Seorang wiraniaga begitu putus asa karena merasa gagal untuk menjadi penjual yang baik,. dia nyaris selalu gagal menghasilkan penjualan. Dia merasa tidak ada yang kurang dalam dirinya; tampil sebagai representasi perusahaan yang produknya sudah cukup ternama dan dikenal pasar, mengenakan busana bermerk beraromakan parfum mahal, dan sepatu berkelas. Dan dia pun merasa telah melakukan semua seperti yang diinstruksikan oleh trainer di perusahaan; tentang bagaimana greeter yang mesti disampaikan, dan juga gesture yang harus diperhatikan untuk membuat prospek menjadi tertarik dan membeli. Tetap saja dia belum berhasil memikat seorang prospek pun untuk membeli dari dia.Sama halnya dengan seorang eksekutif muda yang bermaksud pindah ke perusahaan lain. Pada kesempatan awal dia begitu yakin dapat diterima di perusahaan yang baru. Dia berhasil lolos wawancara pendahuluan, dan psikotest. Tiba saatnya dia melakukan wawancara final dengan owner perusahaan. … Dan dia gagal. Si eksekutif muda ini begitu kecewa dan tidak habis pikir. Dia sudah melakukan persiapan dengan membuat proposal lamaran yang lux, dan sudah mengenakan setelan blazer saat menghadap owner.

Pertanyaan untuk kita semua, “Mengapakah kedua orang tersebut di atas tidak berhasil ?” Mereka gagal karena mereka telah melakukan kesalahan. Mereka telah memakai topeng saat berhadapan dengan orang lain, mereka dengan sengaja telah menyembunyikan identitas asli mereka. Dan itu membuat lawan bicara menjadi tidak nyaman.

---

Dua cerita di atas menggambarkan bahwa pada kodratnya manusia adalah pribadi – pribadi peniru. Namun dalam meniru kita sering salah memilih peniruan. Kita lahir membawa sifat pribadi kita masing – masing, itulah sebabnya kita disebut sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Orang tua kita atas seijin Tuhan bisa melahirkan kita dalam wujud sama dengan saudara kembar kita, namun tidak akan pernah ada pribadi yang demikian identiknya sekalipun lahir kembar.

Resep meniru yang baik adalah meniru cara – cara atau sikap hidup orang lain yang telah sukses, sehingga bisa mengikuti jejak susksesnya. Namun meniru untuk menjadi sesuai dengan orang lain apa adanya adalah sebuah kesalahan fatal. Sama fatalnya dengan yang telah dilakukan wiraniaga dan eksekutif muda di atas. Mereka meniru segala hal termasuk pemilihan busana, dan mungkin juga mereka meniru gaya bicara atau aksentuasi orang lain.

Pribadi yang sukses adalah pribadi yang secara rutin selalu menyapa dirinya sendiri melalui sebuah cermin, setiap kali akan mengawali hari. Apa maksudnya ?

Pribadi yang sukses adalah pribadi yang secara rutin selalu menyapa dirinya sendiri melalui sebuah cermin, setiap kali akan mengawali hari. Apa maksudnya ? Saya tahu sebagian dari Anda menjadi bingung. Begini, bagaimana jika mulai hari ini Anda (kita) persiapkan sebuah cermin, lalu pasang cermin itu di depan kamar mandi Anda (kita). Sehingga Anda (kita) bisa melihat diri kita setiap pagi, dan bisa segera menegur gambaran sosok di hadapan kita apabila kita merasa itu bukan sosok yang penuh gairah yang akan menuntun kita bersemangat hari ini. Setelah itu kita bisa merencanakan kualitas mandi kita pagi ini untuk menjadikan diri kita menjadi jauh lebih baik dari yang kita lihat di cermin. Selesai mandi, sekali lagi pandangi cermin, dan katakan seyakin – yakinnya : “AKU AKAN MENGALAHKANMU HARI INI”. Cukup !

Berpakaian dan dandanilah diri Anda dengan penuh cinta kasih. Kenakanlah padu padan busana yang mampu memunculkan “keindahan” Anda, dengan sedikit parfum yang aromanya lembut dan sesuai dengan karakter keringat Anda. Karena tidak ada busana sebagus dan semahal apa pun yang mampu menjamin akan menjadikan pemakainya menjadi sama menariknya satu dengan yang lain. Dan jika Anda sudah masuk ke komunitas umum, tetap jagalah kewibawaan asli Anda. Pergunakan suara dan aksentuasi asli Anda sendiri, jangan tiru gaya bicara orang lain, sekalipun Anda sangat mengaguminya. Tetap jadilah diri Anda sendiri.

Metodologi berkomunikasi dengan cermin dilakukan oleh mereka yang belum memiliki pasangan hidup atau kekasih.

Jika Anda sudah memiliki kekasih atau pasangan, berarti Anda lebih beruntung. Karena Anda memiliki keunggulan komparatif, yaitu tambahan penilai yang tidak kalah jujurnya dalam membuat diri Anda tampil prima dan menawan. Sekedar saran buat Anda, jika bermaksud memilih kekasih hati atau pun pasangan hidup, maka pilihlah yang benar – benar menyayangi Anda dan paling mengerti dalam menjadikan Anda tampil menarik.

Kekasih hati atau pasangan hidup yang baik, akan selalu memperhatikan detil setiap penampilan kita. Dia akan memilihkan busana yang paling pantas untuk kita dan dia juga akan dengan cintanya rewel bila ada yang kurang dalam penampilan kita. Jangan sekali – kali mengeluh dengan kerewelannya, karena kekasih hati atau pasangan hidup kita itu jujur. Dia tidak akan dengan sadar dan tega melakukan hal yang akan membuat rendah Anda, maka berserahlah sepenuhnya kepada pasangan yang mencintai Anda.

Jadi mengapakah Anda masih ingin menjadi orang lain ?


sumber : http://benedikawidyatmoko.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar