Rabu, 25 November 2009

ARTI HIDUP


"Di sini saya menemukan arti hidup dan saya harap kalian juga menemukannya di sini. Bila tidak maka silakan cari yang lain dan tekuni itu"

Itu adalah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh seorang kawan dalam sebuah pembentukan ekstrakulikuler KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) di SMA almamater kami. sebelumnya kami adalah siswa-siswi SMA yang direkrut untuk memesuki dunia karya ilmiah remaja untuk kepentingan lomba semata. kami bekerja bersama,mencari ide,mengobservasi,meneliti,


menyusun karya ilmiah hingga siap kirim demi menjaga nama baik sekolah. Tanpa ada pelatihan sebelumnya. hanya ada kesepakatan,keinginan bersama dan komitmen yang terus-berusaha dijaga hingga proses penyusunan karya ilmiah selesai. hasilnya tidak mengecewakan. Maka pada kesempatan lain kami dan beberapa taman lain kembali dipanggil dan diminta kesanggupannya untuk kembali menyusun karya ilmiah. kami pun mulai bekerja tentunya dengan berbagai tantangan yang berbeda.

Hingga kami lulus dan kuliah di tempat pilihan masing-masing,kawan saya itu merasakan betul manfaat dari keikutsertaannya di KIR. Hatinya tergerak untuk memajukan KIR di almamater kami. Dia ajak kawan-kawan lain,termasuk saya untuk bersama mewujudkan keinginannya. awalnya saya hanya sekedar ingin membantu karena terdorong oleh rasa pekewuh. Namun saat kami berhasil bertemu dengan anak-anak di SMA kami yang tertarik dengan KIR,saya merasakan energi positif yang begitu besar yang lahir dari sebuah cita-cita besar. "Suatu saat nanti KIR akan jadi ekskul yang populer yang ada di semua sekolah,SMP dan SMA" itu adalah sepenggal mimpi yang sempat dia ceritakan sebelum pertemuan formal dengan "adik-adik" di SMA.

Lalu kata-kata "menemukan arti hidup" menjadi begitu berkesan bagi saya. Sama seperti menemukan "lentera jiwa". Namun setelah saya mengingat perjalanan kami saya merasa ada yang berbeda. Membaca artikel menemukan lentera jiwa membuat saya sadar bahwa terkadang kita haru berani mengambil keputusan yang terasa sulit demi menyalakan jiwa kita,kehidupan kita. Menemukan lentera jiwa ditekankan pada saat kita berani mengambil keputusan sulit itu dengan segala konsekuensinya.

Sementara yang saya lihat dari kawan saya dan kemudian saya sendiri karena kami sering menjadi rekan dalam satu tim adalah sebuah proses yang panjang dan terus menerus. Kami tidak merasa dalam posisi mengambil pilihan sulit,bahkan bisa dikatakan kami tidak boleh memilih karena kami direkrut oleh guru kami lalu ditugaskan oleh sekolah untuk mengikuti lomba. Istilahnya manut saja. Dalam "kemanutan" itulah kami mulai menemukan arti hidup. Bagaimana kami harus belajar dari nol karena sama sekali belum tahu apa-apa. Bagaimana kami mencari solusi-solusi atas masalah yang timbul tidak hanya dari luar tetapi dari dalam diri kami sendiri seperti kurang kompak dalam bekerja,miss komunikasi atau bahkan ketakutan akan kegagalan.

Itulah sebuah proses untuk menemukan arti hidup. Begitu banyak orang yang belum menemukan arti hidupnya atau kehilangan arti hidupnya.Mereka yang bekerja demi orang lain, menjalani kehidupan dengan standar kesuksesan yang dibuat bukan oleh dirinya sendiri, melangkan tanpa keyakinan dalam diri.
Padahal bila telah memantapkan hati pada sebuah pilihan maka konsekuensi utama adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin.

Jadi seriuslah dengan pilihan hidup kita walau itu dalah sebuah pilihan yang sederhana karena mungkin di situlah kita akan menemukan arti hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar