Minggu, 01 November 2009

KEUTAMAAN TAKUT


Penjelasan keutamaan takut dan panggiatan kepada takut. (Ihya 'Ulumuddin pada bagian kitab takut dan harap)

Ketahuilah bahwa kelebihan takut itu sesekali diketahui dengan perhatian dan i’tibar. Dan di kali yang lain dengan ayat-ayat dan hadits-hadits.

Adapun dengan i’tibar, maka jalannya adalah bahwa ; keutamaan sesuatu itu menurut kadar kemampuannya dalam hal membawa kebahagiaan bertemu dengan Allah Ta’ala di akhirat. Karena tiadalah yang dimaksud selain kebahagiaan yang demikian itu. Dan tiada kebahagiaan bagi hamba selain menemui Tuhannya dan berdekatan dengan-Nya. Maka apa saja yang dapat menolong pada yang demikian, maka baginya adalah sesuatu keutamaan. Dan keutamaan itu menurut kadar tujuan. Dan telah jelas bahwa tiada sampai kepada kebahagiaan berjumpa dengan Allah Ta’ala di akhirat selain dengan memperoleh kasih-sayang-Nya.

Dan jinak hati kepada-Nya di dunia serta kasih sayang itu tiada akan berhasil selain dengan ma’rifah. Dan ma’rifah tidak akan berhasil selain dengan terus menerus berfikir (tafakur). Dan kejinakan hati itu tidak akan berhasil selain dengan kasih sayang dan terus menerus berdzikir. Dan tidak mudah untuk rajin kepada dzikir dan fikir selain dengan memutus cinta dunia dari dalam hati. Dan hal ini tidak akan dapat terputus selain dengan meninggalkan lezat dunia dan hawa nafsunya. Dan tidak mungkin meninggalkan hawa nafsu selain dengan mencegah syahwat. Dan nafsu syahwat tidak akan tercegah dengan sesuatu seperti tercegahnya ia dengan api ketakutan. Maka takut adalah api yang membakar syahwat. Maka keutamaan takut itu menurut kadar pembakaran nafsu syahwat, dan menurut kadar yang mencegah dari perbuatan maksiyat dan menggerakkan pada perbuatan ta’at. Dan yang demikian itu berbeda menurut berbedanya tingkat tingkat takut sebagaimana telah diterangkan.

Dan bagaimana takut itu tidak memiliki keutamaan ? bahkan dengan takut dapat dihasilkan iffah, wara, taqwa dan mujahadah. Dan semua itu adalah perbuatan terpuji yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala.

Adapun dengan jalan penukilan dari ayat-ayat dan hadits-hadits, maka apa yang terdapat pada keutamaan itu diluar dari hinggaan. Dan cukup bagi anda menjadi dalil tentang keutamaannya, bahwa Allah Ta’ala mengumpulkan nagi orang-orang yang takut, akan adanya petunjuk, rahmat, ilmu dan ridho. Dan itu adalah kumpulan tingkat-tingkat isi surga.


Allah Ta’ala berfirman :”Hudan warahmatan lilladziina hum liRabbihim yarhabuun” (Al-A’raf 154)

Artinya “Petunjuk dan rahmat bagi orang – orang yang takut kepada Tuhannya”.

“Innama yakhsyaLlah min ibaadiHil Ulama” (Fathir 28)

Artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah Ulama”.

“RadhiyaLlahu ‘anhum waradhuu ‘anH dzaalika liman khasyiya Rabbah”.

Artinya, “Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian ini diperuntukkan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-Bayyinah 8).


Apa saja yang menunjukkan keutamaan ilmu, maka itu menunjukkan kepada keutamaan takut, karena takut itu buah dari ilmu. Dan karena itulah disebut pada ucapan Musa AS “Adapun orang-orang yang takut maka bagi mereka itu Teman Yang Maha Tinggi (Ar-rafiqul a’la) yang tiada bersekutu mereka dengan orang lain”

Maka perhatikanlah bagaimana Musa AS menyendirikan mereka dengan pertemanan Ar-Rafiqul a’la itu bagi para Nabi dan orang-orang yang berhubungan (mengikuti) dengan mereka.

Dan karena itulah ketika RasuluLlah SAW disuruh memilih pada waktu beliau sakit yang membawa kepada ajal beliau, antara tetap di dunia atau datang kepada Allah Ta’ala maka beliau bersabda, “Aku memohon kepada Engkau akan Ar-Rafiq al-A’la”.

Jadi kalau dilihat pada yang membuahkan rasa takut itu, maka ia itu ilmu. Dan kalau dilihat pada hasilnya maka ia itu wara, dan taqwa. Dan tidak tersembunyi pada apa yang datang pada hadits tentang keutamaan keduanya. Sehingga al-‘aqibah as-shalihah (kesudahan yang baik) itu menjadi dinamakan dengan istilah taqwa yang dikhususkan dengan taqwa itu. Sebagaimanan kejadian kata al-hamdu itu dikhususkan kepada Allah Ta’ala dan shalawat itu dikhususkan kepada RasuluLlah SAW sehingga dikatakan, “Alhamdu liLlahi Rabbil ‘alamiin, wal ‘aqibatu lil Muttaqiin, washalaatu ‘ala Sayyidinaa Muhammadin ShallaLlahu ‘alaiHi wasallama wa AaliHi ajma’iin”.

Artinya “Segala pujian (al-Hamdu) bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik itu bagi orang yang taqwa, dan shalawat serta salam itu bagi Sayyidinaa Muhammad SAW dan kepada keluarganya semua”.

Allah Ta’ala telah mengkaitkan taqwa dengan diri-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Lan yanalaLlaha luhuumuhaa walaa dima-uhaa walakin yanaaluhu taqwa minkum”. (Al-Hajj 37)

Artinya “Tiada akan sampai kepada Allah daging dan darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah taqwa kamu sekalian.

Sesungguhnya taqwa itu ibarat dari pencegahan dari perbuatan yang tidak baik, menurut yang dikehendaki oleh takut, sebagai mana dahulu pernah diterangkan. Dan karena itulah berfirman Allah Ta’ala, “Inna akramakum ‘indaLlahi atqaakum” (al-Hujuraat 13).

Artinya” Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa dari kamu sekalian”.

Dan karena itulah Allah Ta’ala mewasiyatkan kepada orang-orang yang terdahulu dan kemudian dengan taqwa.

Allah Ta’ala berfirman”Walaqad washaiNal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa iyyakum anittaquuLlaah,” (An-Nisa 131)

Artinya “Dan sungguh telah Kami wasiyatkan kepada orang-orang yang dioberi kitab sebelum kamu dan demikian juga kepadamu agar bertaqwa kepada Allah”.

Allah Ta’ala berfirman, “Wakhaafuu inkuntum mukminiin” “Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu termasuk orang-orang yang beriman (Ali Imran 175).

Maka Allah Ta’ala memerintahkan dengan takut, mewajibkannya, dan mensyaratkannya kepada iman. Oleh karena itu tidak tergambar bahwa orang mukmin itu lepas dari takut meskipun lemah. Dan kelemahan takutnya itu menurut kadar kelemahan ma’rifahnya dan keimanannya.

RasuluLlah bersabda tentang keutamaan taqwa, “Apabila Allah Ta’ala mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudain pada suatu tempat di hari yang telah dimaklumi, maka tiba-tiba mereka mendengar suara yang dapat terdengar kepada yang paling jauh dari mereka sebagaimana dapat terdengar oleh yang paling dekat dari mereka, maka Suara itu berkata, “Hai manusia, sesungguhnya Aku telah, telah Aku diamkan bagimu semenjak Aku jadikan kamu hingga harimu sekarang ini. Maka diamlah kepadaKu pada hari ini. Sesungguhnya amalmu akan dikembalikan kepadamu. Hai manusia, sesungguhnya Aku telah menciptakan bangsa nasab dan kamu juga telah menciptakan nasab. Maka kamu rendahkan nasab-Ku dan kamu tinggikan nasabmu. Aku berifrman, “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang lebih bertaqwa dari kamu sekalian”. Dan kamu enggan selain mengatakan Si fulan anak si fulan, si fulan lebih kaya dari pada si fulan”. Maka pada hari ini Aku merendahkan nasabmu dan Aku tinggikan nasab-Ku. Dimanakah orang-orang yang bertaqwa ? Maka diangkatkanlah bendera bagi suatu kaum lalu kaum itu membawa benderanya ke tempatnya. Maka mereka itu masuk surga tanpa dihisab (dihitung amalnya)”.

Nabi SAW bersabda, “Ra’sulhikmah makhafataLlah”

Yang artinya, “Puncak hikmah adalah takut kepada Allah”.

Nabi SAW bersabda kepada Ibnu Mas’ud, “In Aradta an talqany faaktsir minal khaufi ba’dy”

Yang artinya, “Jika kamu berkeinginan dapat berjumpa denganku, maka perbanyaklah takut kelak sesudahku”.

Al Fudhail berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya ketakutan itu akan menunjukkannya kepada setiap kebajikan”.

Asy-Syibli berkata, “Pada suatu hari aku takut akan Allah Ta’ala maka aku malihat pada ketakutanku itu suatu pintu dari hikmah dan i’tibar yang tidak pernah sekalipun aku melihatnya.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Seorang mukmin yang mengerjakan kejahatan akan terhubung oleh dua kebaikan, 1. takut siksaan dan 2. harap ampunan – seperti serigala diantara dua ekor singa

Disebutkan pada ucapan Musa AS, “Adapun orang-orang yang wara’ maka tiada tertinggal seorangpun melainkan aku bertengkar dengan dia tentang hitungan amalnya dan aku periksakan apa yang ada dalam dua tangannya selain orang-orang yang wara’, maka aku malu kepada mereka. Dan aku muliakan mereka, bahwa aku suruh mereka berhenti menghitung amal mereka.

Wara’ dan taqwa adalah beberapa nama yang dipetik dari beberapa arti yang mengandung syarat takut/khuf . Maka jika sepi dari takut maka tidaklah dinamakan dengan nama-nama tersebut. Demikian juga yang disebutkan dalam keutamaan dzikir itu tidaklah tersembunyi. Dan sesungguhnya dzikir itu diciptakan Allah Ta’ala dikhususkan bagi 0rang-orang yang takut. Allah Ta’ala berfirman “Sayadzakkaruu man yakhsya” yang artinya, “Nanti peringatan / dzikr itu akan diterima oleh orang-orang yang takut”.

Allah Ta’ala berfirman, “Waliman khafa maqama Rabbihi jannataan” “dan bagi orang yang takutn akan –waktu berdiri di hadapan Tuhannya- maka mereka itu mendapatkan dua surga”. (Ar-Rahman 46)

Nabi SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “demi kemuliaanKu, tidaklah Aku kumpulkan atas hambaku dua ketakutan. Dan tidaklah Aku kumpulkan baginya dau keamanan. Maka jika ia merasa aman kepada-Ku di dunia, niscaya Aku takutkan ia di hari kiyamat. Dan jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku berikan keamanan ia di hari kiyamat.

Nabi SAW bersabda, “barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala maka segala sesuatu akan takut kepadanya. Dan siapa yang takut kepada selain Allah Ta’ala maka ia ditakutkan oleh Allah Ta’ala terhadap segala sesuatu.”

Nabi SAW bersabda, “yang paling sempurna akal dari kamu sekalian adalah yang paling takut kepada Allah Ta’ala dari kamu sekalian, pada apa yang diperintah oleh Allah Ta’ala dan yang dilarang-Nya”.

Yahya bin Mu’adz RA berkata, “Kasihan anak Adam ! Kalaulah ia takut akan neraka sebagaimana ketakutannya kepada kemiskinan, niscaya ia akan masuk surga”.

Dzunun RA berkata, “Siapa yang takut kepada Allah Ta’ala, maka haluslah hatinya, bersangatan cintanya kepada Allah Ta’ala dan sempurna akalnya”.

Dzunun RA berkata pula, “Seharusnyalah takutn itu lebih kuat daripada harap. Apabila harap yang lebih kuat, niscaya kacaulah hati”.

Abul Husain ad-Dlirair berkata, “Tanda kebahagiaan itu takut terhadap kecelakaan. Karena takut itu merupakan kekang diantara Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Maka jika kekang itu terputus niscaya hamba itu binasa bersama orang-orang yang binasa.”

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz “Siapakah diantara makhluk yang paling aman kelak ?”

Yahya bin Mu’adz menjawab, “Yang paling takut diantara mereka pada hari ini”.

Sahal RA berkata, “Engkau tidak akan memeperoleh takut sebelum engkau makan makanan yang halal”.

Ditanyakan kepada Al-Hasan, “Hai Abu Said, apa yang kami perbuat ?. kami duduk bersama golongan – golongan yang mempertakutkan kami sehingga hati kami hampir-hampir terbang”.

Al-Hasan menjawab, “Demi Allah sesungguhnya jika engkau bercampur baur dengan golongan yang mrmpertakutkanmu sehingga engkau mendapat keamanan adalah lebih baik bagimu daripada engkau berteman dengan golongan yang memper-amankan engkau sehingga engkau memperoleh ketakutan”.

Abu Sulaiman Ad-Daraani RA berkata, “Tidaklah takut bercerai dari hati melainkan hati itu akan roboh”.

A’isyah RA berkata, “Aku bartanya, wahai RasuluLlah –Firman Allah ‘Walladziina yu’tuuna maa aatau waquluubuhum waajilah’ (Al-Mukminuun 60). Artinya “Dan orang-orang yang memberikan pemberiannya dengan hati yang takut kepada Tuhanya”.....itukah orang yang mencuri dan berzina ?”

Nabi SAW menjawab, “Tidak. Akan tetapi orang yang berpuasa dan mengerjakan shalat dan bersedekah dan takut jika amalnya tidak diterima”.

Pengerasan-pengerasan yang datang dari hadits mengenai keamanan dari cobaan dan adzab Allah Ta’ala itu tidak terhingga banyaknya. Dan setiap yang demikian ini adalah pujian kepada takut. Karena kecelakaan akan sesuatu itu adalah pujian akan lawannya yang meniadakannya. Dan lawan takut adalah keamanan sebagaimana lawan harap itu putus asa. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh tercelanya putus asa kepada kelebihan harap. Maka demikian pula ceelaan akan keamanan itu menunjukkan kelebihan takut yang menjadi lawannya. Bahkan kami mengatakan bahwa setiap apa yang datang dari hadits tentang kelebihan harap, maka hal itu menunjukkan akan keutamaan takut karena keduanya itu harus mengharuskan. Maka setiap orang yang mengahrap dari kekasihnya maka tidak boleh tidak bahwa ia takut akan kehilangannya. Maka jika iatidak takut akakn kehilangannya niscaya ia tidak mencintainya maka ia tidak mengharap untuk menungguinya.

Maka takut dan harap itu saling mengharuskan, mustahil terlepas satu dengan yang lainnya. Benar, bisa dikatakan bahwa yang satu mengalahkan yang lain. Dan keduanya itu berkumpul. Dan boleh bahwa hati itu sibuk dengan salah satu dari keduanya, dan hati itu tidak menoleh kepada yang lain sesaat karena kelengahannya daripadanya. Dan ini dikarenakan diantara persyaratan harap da takut itu menyangkut keduanya dengan apa yang diragukan padanya. Karena yang diketahui itu tidak diharapkan dan tidak ditakutkan.

Maka yang dicintai –sudah pasti-yang boleh adanya itu juga boleh tiadanya. Maka mentakdirkan adanya itu akan menyenangkan hati dan itulah harap. Sedangkan mentakdirkan ketiadaannya itu menyakitkan hati dan itulah takut. Dua pentakdiran menjadi berlawanan –sudah pasti- apabila keadaan yang ditunggukan itu diragukan. Benar, salah satu dari dua tepi keraguan itu terkadang lebih kuat dari yang lain dengan adanya sebagian sebab-sebab. Dan yang demikian ini dinamakan sangkaan(dhan). Maka yang demikian itu adalah sebab menangnya salah satu dari keduanya atau lainnya. Maka apabila telag mengeras sangkaan akan datangnya yang dicintai niscaya kuatlah harap / raja’ dan tersembunyilah khauf / takut dengan dikaitkan kepadanya. Dan begitupula sebaliknya. Dan di atas setiap keadaan maka keduanya itu saling mengharuskan.

Dan karena itulah Allah Ta’ala berfirman,”Wayad’uunanaa raghaban warahaban”. ‘Dan mereka berdo’a kepada Kami dengan pengharapan dan perasaan takut’. (Al-Anbiya 90).

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Yad’uuna Rabbahum khaufan wa thama’an” ‘Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh ketakutan dan pengharapan”. (As-Sajadah 16).

Dan karena itulah orang arab meng-ibaratkan dengan takut itu harap. Firman Allah Ta’ala “Maa lakum tarjuuna liLlahi waqaaran”. ‘Mengapa kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah ?’. artinya kamu tidak takut (Nuh 13)

Dan kebanyakan apa tang tersebut di dalam al-Qur’an bahwa harap itu berarti takut. Dan demikian ini karena antara keduanya saling mengharuskan. Karena kebiasaan orang arab itu mengibaratkan sesuatu dengan apa yang saling mengharuskan daripadanya.

Bahkan aku mengatakan bahwa setiap yang datang dari hadits tentang keutamaan menangis karena ketakutan kepada Allah Ta’ala maka itu melahirkan keutamaan takut. Maka sesungguhnya menangis itu adalah buah ketakutan.

Allah Ta’ala berfirman, “Falyadhakuu qaliila walyabkuu katsiira”. ‘Maka hendaklah mereka itu sedikit tertawa dan banyak menangis’. (At-Taubah 82).

Allah Ta’ala berfirman, “Yabkuuna wayaziiduhum khusyuu’a”. ’Mereka menangis dan Al-Qur’an itu menambah kekhusyu’an mereka’.

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Afamin haadzal hadiits ta’jabuuna watadhakuuna walaa tabkuuna wa antum saamiduun”. ‘Apakah karena bacaan ini kamu merasa heran dan kamu akan tertawa dan tiada menangis, sedangkan kamu memperhatikannya’. (An-Najm 59-61)

Nabi SAW bersabda yang artinya, “Tiadalah dari hamba yang beriman yang keluar air mata dari kedua matanya walaupun seperti kepala lalat karena takut kepada Allah Ta’ala kemudian air mata itu mengenai sesuatu daripada mukanya melainkan diharamkan ia oleh Allah dari api neraka”.

Nabi SAW bersabda, “Apabila hati orang mukmin gemetar dari karena takut kepada Allah, niscaya bergugurlah dosa daripadanya sebagimana bergugurannya daun dari pohonnya”.

Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta’ala, sehingga kembalilah air susu dalam tempatnya semula”. –(artinya mustahil terjadi).

‘Uqbah bin Amir bertanya, “Apa itu kelepasan (keselamatan) ya RasuluLlah ?”

Nabi SAW menjawab, “Tahanlah lidahmu atas dirimu, dan hendaklah rumahme melapangkanmu, dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu”.

A’isyah RA berkata, “Aku bertanya, ‘Ya RasuluLlah adakah seseorang dari umatmu itu masuk surga tanpa di hisap (tanpa perhitungan amal) ?’

Nabi SAW menjawab, “Ada yaitu siapa yang mengingat dosanya kemudian ia menangis”.

Nabi SAW bersabda, “Tiada satu tetespun yang lebih disukai oleh Allah Ta’ala daripada setetes air mata karena takut kepada Allah Ta’ala, atau setetes darah yang ditumpahkan di jalan Allah Ta’ala”.

Nabi SAW berdoa, “Wahai Tuhanku anugerahkanlah kepadaku dua mata yang bercucuran airnya, yang menyembuhkan hati dengn menglirnya air mata sebelum air mata itu menjadi darah dan gigi geraham menjadi bara api”.

Nabi SAW bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah Ta’ala pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya.” Lalu RasuluLlah menyebutkan diantara mereka itu seorang laki-laki yang mengingat / berdzikir kepada Allah hingga id tempat yang sunyi lalu bercucuranlah kedua matanya dengan air mata.

Abu Bakar As-Shidiq RA berkata, Barang siapa sanggup menangis, maka hendaklah ia menangis. Dan barang siapa yang tidak sanggup, maka hendaklah dibuat-buat menangis”.

Adalah Muhammad bin Al-Munkadir RA, apabila ia menangis maka ia menyapu mukanya dan janggutnya dengan air matanya dan megatakan, “Telah sampai berita kepadaku bahwa mereka tidak akan memakan tempat yang disentuh air mata.”

A bduLlah bin Amar bin ‘ash RA berkata, menangislah. Maka jukalau engkau tidak menangis maka dibuat-buatlah menangis itu maka demi Allah yang nyawaku ditangan-Nya jikalah tahu seseorang dari kemu dengan sebenar-benar tahu, niscaya ia memekik hingga suaranya habis, dan ia emngerjakan shalat hingga pecah tulang pinggangnya”.

Abu Sulaiman Ad-Daraani RA berkata, tiadalah bolak-balik mata itu dengan airnya melainkan tiada akan menganiaya muka yang punya mata itu oleh kesempitan dan kehinaan di hari kiyamat. Maka jikalau mengalir air matanya niscaya uap api neraka akan dipadamkan oleh Allah dengan tetesan yang pertama darinya. Dan jikalau seorang laki-laki menangis untuk suatu umat, niscaya tiada akan diazab umat itu”.

Abu Sulaiman RA berkata, “Menangis itu dari takut/khauf, harap dan sukacita itu dari kerinduan”.

Ka’bul akhbar RA berkata,” Demi Allah yang tanganku ditangan-Nya, aku menangis dikarenakan takut kepada Allah, sehingga mengalirnya air mataku di pipiku lebih aku sukai daripada aku bersedekah dengan seribu bukit dari emas”.

AbduLlah bin Umar berkata, “Bahawa aku mengeluarkan air mata dikarenakan takut kepada Allah Ta’ala, adalah lebih aku sukai daripada aku bersedekah dengan seribu dinar”.

Diriwayatkan dari Handalah yang mengatakan, “Adalah kami di sisi RasuluLlah SAW lalu beliau memberi pengajaran kepada kami dengan pengajaran yang menghaluskan hati, mencurahkan air mata dan memperkenalkan kami akan diri kami. Lalu aku kembali kepada keluargaku. Maka mendekatlah seorang wanita kepadaku. Dan terjadilah diantara kami pembicaraan dunia. Maka aku lupa apa yang kami dapatkan di sisi RasuluLlah SAW, dan kami masuk dalam urusan duniawi. Kenudian aku ingat apa yang ada pada kami, maka aku mengatakan kepada diriku, ‘Aku telah menjadi munafik, dimana menyeleweng dari apa yang aku berada padanya dari ketakutan dan kehalusan hati. Maka aku keluar dan aku serukan : ‘Handalah telah menjadi munafik’. Lalu Abu Bakar As-Shidiq RA bertemu dengan aku, maka beliau mengatakan ‘Tidak ! Handalah tidak munafik”.

Maka aku masuk ke rumah RasuluLlah SAW dan aku mengatakan, “Handalah telah menjadi munafik’. Lalu RasuluLlah SAW mengatakan, ‘Tidak ! Handalah tidak munafik”. Maka aku menjawab, “Ya RasuluLlah, kami berada di sisi Engkau. Lalu engkau memberikan pengajaran kepada kami suatu pelajaran yang menakutkan hati, mencucurkan air amta dan kami mengenal diri kami. Lalu aku kembali kepada keluargaku, maka aku masuk pada pembicaraan dunia dan aku lupa dari apa yang ada pada kami dari sisi engkau”

Maka Nabi SAW menjawab,”Hai Handalah, Jikalau kamu selalu dalam keadaan yang demikian niscaya para malaikat di jalan-jalan dan di atas tempat tidurmu akan selalu berpegangan tangan denganmu. Akan tetapi Handalah, se sa’at se sa’at”.

Jadi setiap apa yang telah datang pada hadits tentang kelebihan harap dan menangis, kelebihan taqwa dan wara’, maka itu menunjukkan kelebihan takut. Karena semua itu menyangkut dengan takut. Adakalanya sangkutan sebab, adakalanya sangkutan musabab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar