Minggu, 01 November 2009

Hakikat Sabar dan Maknanya.




Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu merupakan suatu maqam (Tingkat) dari beberapa tingkatan agama. Dan suatu kedudukan dari beberapa kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah Ta’ala (saalikiin).

Semua maqam-maqam agama itu hanya dapat tersusun dari tiga hal : ma’irfah, haal, dan amal perbuatan. Ma’rifah adalah pokok. Dialah yang mewariskan haal ihwal. Dan haal itu yang membuahkan amal perbuatan.

Ma’rifah itu seperti pohon kayu. Hal ihwal itu seperti ranting dan amal perbuatan itu seperti buah. Dan ini terdapat pada semua maqam orang-orang yang berjalan menuju Allah Ta’ala.

Dan nama iman, sesekali dikhususkan dengan ma’rifah sesekali disebutkan secara mutlak kepada semuanya sebagaimana telah kami sebutkan pada perbedaan nama iman dan islam pada kitab “Kaidah-kaidah ‘aqaid”. Seperti ini pula sabar, tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma’rifah yang mendahuluinya dan dengan hal-ihwal yang tegak berdiri.

Maka sabar pada hakikatnya adalah ibarat dari ma’rifah itu sendiri. Dan amal perbuatan adalah seperti buah yang keluar dari ma’rifah. Dan ini tidak dapat diketahui selain dengan mengetahui cara tertibnya antara malaikat, insan dan hewan. Maka sabar itu adalah ciri khas pada insan. Dan tidak tergambar adanya sabar itu pada hewan dan malaikat karena totalitasmya.

Penjelasannya adalah bahwa hewan-hewan itu dikuasai nafsu syahwat. Dan ia diciptakan untuk nafsu syahwat tersebut. Maka tidak ada pembangkit bagi hewan tersebut kepada gerak dan diam selain nafsu dan syahwat. Dan tiada pula pada hewan itu suatu kekuatan yang berbenturan dengan nafsu syahwat dan yang menolaknya dari yang dikehendaki nafsu syahwat. Sehingga dinamakan ketetapan kekuatan pada menghadapi nafsu syahwat dengan istilah sabar.

Adapun para malaikat AS, maka mereka itu di juruskan pada merindui hadlirat ketuhanan. Dan merasa cemerlang dengan tingkat kedekatan kepada hadlirat ketuhanan itu. Dan mereka tiada dikuasai nafsu syahwat yang membelokkan dan yang mencegah dari hadlirat ketuhanan sehingga memerlukan pada pembenturan yang memalingkannya dari hadlirat Yang Maha Agung dengan tentara lain yang akan mengalahkan dan membelokkan.

Adapun insan maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya dalam keadaan kekurangan seperti halnya hewan. Tidak dijadikan padanya selain keinginan makan yang diperlukannya. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias padanya. Kemudian nafsu keinginan kawin, diatas tartib yang demikian. Dan tidak ada sama sekali pada insan itu kekuatan sabar karena sabar itu adalah ibarat dari ketetapan tentara untuk menghadapi tentara lain sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya, untuk melawani kehendak dan tuntutan keduanya. Dan pada anak kecil itu tidak ada sesuatupun kecuali tentara hawa nafsu seperti yang ada pada hewan. Akan tetapi Allah Ta’ala dengan karunia-Nya dan keluasan kemurahan-Nya memuliakan anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta’ala mewakilkan kepada manusia itu ketika sempurna dirinya mendekati kedewasaan dengan dua malaikat. Yaitu satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkanya. Maka berbedalah manusia itu dengan pertolongan dua malaikat tadi daripada hewan-hewan.

Dan insan itu khusus ditentukan dengan dua sifat “

Pertama – mengenal Allah Ta’ala dan mengenal Rasul-Nya. Kedua, mengenal kepentingan-kepentingan yang menyangkut dengan akibat (bagi masa yang akan datang). Semua dari yang demikian itu berhasil dari malaikat yang diserahkan kepadanya petunjuk dan pengenalan.

Maka hewan tidaklah memiliki ma’rifah, dan tiada petunjuk kepada kepentingan akibat-akibat, akan tetapi hanya kepada yang dikehendaki nafsu keinginannya yang sesaat saja. Oleh karena itu hewan tidak mencari selain yang dirasa enak. Adapun terhadap obat yang bermanfaat, serta adanya obat itu mendatangkan melarat seketika, maka hal itu tidak dicarinya dan tidak dikenalnya.

Maka jadilah insan itu dengan sinar hidayah dapat mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu memiliki hal-hal yang ghaib (yang belum kelihatan sekarang), yang tidak disukai akan akibatnya. Akan tetapi petunjuk ini belumlah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan sesuatu yang mendatangkan melarat. Berapa banyak yang mendatangkan melarat bagi manusia – seperti penyakit yang bersarang pada dirinya umpamanya, akan tetapi tiada kemampuan baginya untuk menolak. Lalu ia memerlukan pada kemampuan dan kekuatan yang dapat menolaknya yaitu kepada menyembelih nafsu syahwat itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat itu dengan kekuatan tersebut sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta’ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkan dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. Ia memerintahkan tentara ini untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sesekali tentara ini yang lemah dan sesekali ia yang kuat. Yang demikian itu menurut pertolongan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dengan penguatan. Sebagaimana nur/petunjuk juga berbeda pada makhluk dengan perbedaan yang tiada terhingga.

Maka kami menamakan sifat tersebut – yang membedakan manusia dan hewan, pada pencegahan nafsu syahwat dan pemaksaannya dengan nama penggerak keagamaan. Dan hendaklah kami namakan penuntutan nafsu syahwat dan semua yang dikehendaki nafsu syahwat itu dengan nama penggerak hawa nafsu.

Hendaklah dipahami bahwa peperangan itu terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu. Dan peperangan diantara keduanya itu berlangsung terus menerus. Adapun medan peperangan ini adalah hati hamba. Sumber bantuan kepada penggerak agama datangnya dari para malaikat yang menolong barisan tentara Allah Ta’ala. Dan sumber bantuan kepada penggerak hawa nafsu itu datangnya dari setan-setan yang membantu musuh-musuh Allah Ta’ala.

Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama untuk menghadapi penggerak nafsu syahwat . kalau penggerak agama itu dapat tetap sehingga dapat memaksa penggerak nafsu syahwat dan terus menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah Ta’ala dan berhubungan dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah sehingga ia dapat dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti setan-setan.

Jadi meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu hal yang dinamakan s a b a r, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh ma’rifah dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawankannya, karena itulah sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Apabila telah kuat keyakinannya yakni ma’rifah, yang dinamakan iman yaitu keyakinan bahwa adanya nafsu syahwat itu musuh yang memutus jalan kepada Allah Ta’ala maka akan kuatlah tetapnya penggerak agama. Dan apabila telah kuat tetapnya penggerak agama itu, maka sempurnalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan yang dikehendaki oleh nafsu syahwat. Kuatnya ma’rifah dan iman akan mengkejikan apa yang ghaib dari nafsu syahwat dan buruk akibatnya.

Dua malaikat tersebut adalah yang menanggung dua tentara tadi dengan izin Allah Ta’ala. Dan dijadikannya kedua malaikat tersebut untuk yang demikian. Malaikat tersebut adalah dari malaikat-malaikat yang menulis amal perbuatan manusia. Keduanya adalah malaikat yang ditugaskan kepada tiap-tiap orang dari anak Adam.

Apabila anda telah mengetahui bahwa pangkat malaikat penunjuk itu lebih tinggi dari malaikat yang menguatkan niscaya tidak tersembunyi lagi bagi anda bahwa yang disamping kanan adalah yang termulia bagi dua sisi dari dua pihak, yang seyogyanya diserahkan kepadanya. Jadi dialah yang empunya kanan (shahibul yamin) sedangkan yang lain adalah yang empunya kiri (shahibus syimal).

Hamba itu memiliki dua hal : kelalaian dan berpikir, melepaskan dan bermujahadah. Dengan kelalaian maka hamba itu akan berpaling dari shahibul yamin dan berbuat jahat kepadanya. Lalu berpalingnya itu dituliskan sebagai kejahatan. Dengan berpikir, hamba itu akan menghadap kepada shahibul yamiin untuk mengambil faedah dan petunjuk padanya. Maka dengan demikian hamba itu berbuat baik terhadap shahibul yamiin. Oleh karena itu penghadapannya kepada shahibul yamiin tersebut akan dituliskan baginya sebagai kebaikan.

Demikian pula dengan melepaskan maka dia itu berpaling dari shahibul yasar, meninggalkan meminta bantuan kepadanya, maka dengan demikian ia berbuat jahat kepadanya, lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kejahatan atasnya. Dan dengan mujahadah ia meminta bantuan dari tentaranya. Lalu ditetapkan hal tersebut sebagai kebaikan baginya.

Sesungguhnya ditetapkannya kebajikan dan kejahatan dengan penetapan dua malaikat tersebut, Oleh karena itulah keduanya dinamakan para malaikat mulia yang yang menuliskan amal manusia (Kiraamal Katibiin).

Adapun al-Kiraam (yang mulia atau yang pemurah), maka dikarenakan dimanfaatkan oleh hamba dengan kemurahan keduanya, dan karena para malaikat itu semua adalah yang mulia yang berbuat kebajikan. Adapun al-Katibiin (penulis) maka karena keduanya itu yang menetapkan (menulis) kebajikan-kebajikan dan kejahatan-kejahatan. Dan keduanya sesungguhnya menuliskan pada lembaran-lembaran yang terlipat dalam rahasia hati dan terlipat dari rahasia hati, sehingga tiada terlihat kepadanya di dunia ini. Maka kedua malaikat tersebut – suratannya, tulisannya, lembarannya, dan apa saja yang menyangkut kedua malaikat itu adalah dari jumlah alam ghaib dan alam malakut tidak dari alam syahadah (alam yang dapat disaksikan dengan panca indera).

Setiap sesuatu dari alam malakut itu tidak dapat dilihat oleh mata di alam ini. Kemudian lembaran-lembaran amal yang terlipat itu akan disiarkan sebanyak dua kali. Sekali pada kiyamat kecil (kematian), sekali pada kiyamat besar.

Yang dimaksud kiyamat kecil adalah waktu mati karena Nabi SAW bersabda, “Man maata faqad qaamat qiyaamatuhu”. Yang artinya, “Barang siapa yang mati maka sesungguhnya telah berdiri kiyamatnya”.

Pada kiyamat kecil ini, adalah hamba itu sendirian dan pada kiyamat ini dikatakan, “Walaqad ji’tumuuna furaada kamaa khalaqnaakum awwala marrat”. Yang artinya dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendirian sebagaimana Kami menjadikanmu pada kali pertama”. (Al-An’am 94).

Pada kiyamat kecil dikatakan pula, “Kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiibaa”. Yang artinya “Cukuplah pada hari ini engkau membuat perhitungan atas dirimu sendiri (Al-Isra’ 14).

Adapun pada kiyamat besar yang mengumpulkan semua makhluk, maka hamba itu tidaklah sendirian, akan tetapi kadang-kadang akan dilakukan perhitungan amal (hisab) dihadapan banyak makhluk. Pada kiyamat besar, orang-orang yang bertaqwa akan dibawa ke sorga. Dan orang-orang berdosa dibawa ke neraka secara beramai-ramai, tidak sendirian.

Huru hara pertama adalah huru hara kiyamat kecil. Dan bagi semua huru hara kiyamat besar ada perbandingannya dengan kiyamat kecil, seperti goncangnya bumi-misalnya. Sesungguhnya bumi engkau yang khusus bagi engkau itu bergoncang pada kematian. Maka sesungguhnya engkau mengetahui bahwa kegoncangan itu apabila bergoncang pada suatu negeri niscaya benarlah untuk dikatakan “sesungguhnya bumi mereka telah bergoncang walaupun negeri-negeri yang mengelilingi negeri tersebut tidak bergoncang. Bahkan jika tempat tinggal seorang manusia sendirian bergoncang, maka telah berhasilah kegoncangan itu terjadi padanya karena dia sesungguhnya memperoleh melarat ketika bergoncangnya semua bumi dengan kegoncangan tempatnya tidak dengan kegoncangan tempat tinggal orang lain. Maka bagian dari kegoncangan itu telah sempurna tanpa ada kekurangan.

Ketahuilah kiranya bahwa anda adalah makhluk dari tanah yang paling diridha-i, dan keberuntungan engkau yang khusus dari tanah adalah badan engkau saja. Adapun badan orang lain maka bukanlah keberuntungan (urusan) engkau. Dan bumi tempat engkau duduk itu jika dikaitkan kepada badan engkau adalah laksana karung dan tempat. Dan sesungguhnya engkau takut akan kegoncangan tempat itu bahwa badan engkau akan bergoncang disebabkan kegoncangan tempat tersebut. Kalau tidak demikian, maka udara itu selalu juga bergoncang akan tetapi engkau tidak takut kepadanya karena badan engkau tidak ikut bergoncang dari sebab yang demikian. Maka keberuntungan (efek) engkau dari kegoncangan bumi secara keseluruhan adalah kegoncangan badan engkau saja. Maka itulah bumi engkau dan tanah engkau yang khusus dengan engkau. Tulang-belulang engkau adalah bukit-bukit daripada bumi engkau. Hati engkau adalah matahari dari bumi engkau. Pendengaran engkau, penglihatan engkau dan lain-lain yang khusus bagi engkau, adalah laksana bintang-bintang langit engkau. Bercucurnya keringat dari badan engkau adalah laut dari bumi engkau. Rambut engkau adalah tumbuh-tumbuhan bumi engkau. Angota badan engkau adalah pohon-pohonan bumi engkau. Dan begitulah pada semua bagian tubuh.

Apabila sendi-sendi badan engkau telah roboh karena kematian, maka sesungguhnya telah bergoncanglah bumi sebagai kegoncangannya. Maka apabila tulang-belulang telah bercerai dari daging, maka sesungguhnya bukit-bukit itu telah diangkat lalu dihancurkan sekali hancur. Apa bila tulang belulang telah hancur, maka gunung-gunung itu telah dihancurkan. Apabila hati engkau gelap gulita sesudah mati, maka sesungguhnya matahari itu telah digulung. Apabila pendengaran engkau, penglihatan engkau dan panca indera engkau yang lain tiada berguna lagi, maka sesungguhnya bintang-bintang itu telah berhamburan. Apabila otak engkau pecah maka sesungguhnya langit itu telah pecah. Apabila dari huru haranya mati lalu terpancarlah keringat kening engkau, maka sesungguhnya lautan itu telah terpancar airnya. Apabila salah satu betis engkau telah berpaling dari yang lain dan keduanya itu adalah lipatan badan engkau, maka sesungguhnya unta-unta betina itu telah telah ditinggalkan. Apabila nyawa itu telah berpisah dari tubuh, maka bumi itu dibawa lalu dipanjangkan sehingga ia mencampakkan isinya dan melepaskannya.

Aku tiada akan memperpanjangkan semua perbandingan hal-ihwal dan huru hara itu, akan tetapi aku mengatakan bahwa hanya dengan semata-mata kematian, maka telah tegak berdirilah kiyamat kecil ini. Dan tiada luput bagi engkau dari kiyamat besar itu sesuatu dari apa yang khusus bagi engkau bahkan apa yang khusus bagi orang lain dari engkau. Sesungguhnya masih adanya bintang-bintang itu bagi orang lain, maka apa manfaatnya bagi engkau daripadanya ?. dan telah berguguranlah panca indera engkau yang dengannya engkau dapat mengambil manfaat dengan memandang bintang-bintang itu. Dan orang buta sama baginya antara malam dan siang, gerhana matahari dan terangnya, karena matahari sesungguhnya baginya telah gerhana terhadap dirinya dan itu adalah bahagian nya dari matahari.

Maka terangnya matahari sesudah itu adalah menjadi bahagian orang lain. Dan siapa yang pecah kepalanya, maka sesungguhnya telah pecah langitnya. Karena langit itu adalah ibarat dari apa yang mengiringi pihak kepala. Maka siapa yang tiada memiliki kepala niscaya tiada langit baginya. Maka darimanakah bermanfaat baginya tetapnya langit bagi orang lain ? (tentu tidak ada manfaatnya).

Maka inilah kiyamat kecil itu. Takut itu sesudah yang di bawah, dan huru hara itu sesudah yang penghabisan. Yang demikian itu adalah apabila telah datang bencana yang besar, maka terangkatlah yang khusus, binasalah langit dan bumi, hancurlah gunung-gunung dan bertambahlah huru hara itu. Ketahuilah kiranya bahwa kiyamat kecil ini walaupun kami panjangkan mensifatkannya, maka sesungguhnya kami tidak menyebutkannya seper seratus dari sifat-sifatnya. Dan kiyamat kecil itu jika dibandingkan kiyamat besar adalah seperti kelahiran kecil dibandingkan kelahiran besar.
Sesungguhnya manusia itu memiliki dua kelahiran.

Pertama keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kepada tempat simpanan rahim wanita. Manusia itu berada di dalam rahim adalah pada keadaan yang tetap, tenang, sampai kepada kadar/masa yang ditentukan. Dan manusia dalam perjalanannya kepada kesempurnaan, memiliki tempat-tempat dan tahap-tahap, dari setitik air mani (nuthfah), segumpal darah, segumpal daging, dan lainnya sehingga manusia itu keluar dari kesempitan rahim ibu kepada alam dunia yang lapang. Maka perbandingan secara umum kiamat besar dengan khususnya kiyamat kecil adalah seperti perbandingan luasnya alam yang lapang dengan luasnya lapang rahim ibu. Dan bandingan luasnya alam yang didatangi hamba itu dengan mati jika dibandingkan dengan luasnya dunia adalah seperti bandingan lapangnya dunia juga kepada rahim ibu, bahkan lebih luas dan lebih besar.

Maka kiaskanlah akhirat itu dengan dunia, maka tidaklah kejadian kamu dan kebangkitan kamu, selain seperti satu diri saja. Dan tidaklah kejadian yang kedua melainkan sebagai kiasan yang pertama, bahkan bilangan kejadian itu tidak terhingga pada dua saja. Dan kepada yang demikian itu diisyaratken oleh firman Allah Ta’ala, “Wanunsyi-a kum fii maa laa ta’lamuun”. Yang artinya, “Dan Kami menjadikan kamu dalam rupa yang tiada kamu ketahui”. (Al-Waqi’ah 61).

Orang yang mengakui adanya dua kiyamat itu adalah orang- yang beriman terhadap alam ghaib dan alam syahadah dan yakin dengan alamul mulki wal malakuut. Orang yang mengaku adanya kiyamat kecil dan tidak mengakui adanya kiyamat besar, adalah orang yang memandang dengan mata yang juling kepada salah satu dari dua alam. Yang demikian itu adalah bodoh, sesat dan mengikuti dajjal yang bermata satu / juling.

Alangkah bersangatannya kelalaianmu hai orang-orang yang patut dikasihani. Dan kita semua adalah orang yang patut dikasihani, sedang dihadapan engkau itu ada huru hara tersebut.

Jikalau engkau tidak beriman dengan kiyamat besar disebebkan bodoh dan sesat, maka apakah tidak mencukupi bagimu dalil kiyamat kecil ? Atau tidakkah engkau mendengar sabda Penghulu nabi-nabi SAW,”Kafaa bil mauti mau’idhan” mencukupilah kematian sebagai pemberi pelajaran. Atau tidakkah engkau mendengar susahnya Nabi SAW ketika akan wafat sehingga beliau berdo’a “Allahumma hawwin ‘ala Muhammad sakaraatil maut” yang artinya, “Yaa Allah mudahkanlah kepada Muhammad sakarat maut”.

Atau tidakkah engkau malu dengan keterlambatanmu akan serangan maut karena mengikuti orang-orang lalai dan hina yang tiada yang mereka tunggu selain pekikan yang akan menyiksa mereka dan mereka berbantahan dengan sesamanya ? Mereka tiada berkesempatan menyampaikan pesan dan tiada pula dapat kembali kepada keluarganya. Maka datanglah sakit kepada mereka yang memperingatkan kepada mati, tetapi mereka tidak memperoleh peringatan daripadanya. Dan datanglah kepada mereka itu ketuaan sebagai utusan dari kematian. Maka tidakkah mereka mengambil ibarat daripadanya ?

Alangkah ruginya hamba yang datang rasul kepadanya lalu mereka memperolok-olok rasul itu. Apakah mereka menyangka bahwa mereka akan kekal di aunia ?, atau tidakkah mereka melihat berapa banyak yang telah Kami binasakan sebelum mereka, dari berabad-abad lamanya bahwa mereka itu tidak kembali kepadanya. Ataukah mereka menyangka bahwa orang-orang mati itu telah berjalan jauh dari mereka, lalu mereka itu dianggap tidak ada lagi ?

Tidaklah sekali-lagi demikian ! masing-masing dengan tanpa kecuali akan dihadapkan kepada Kami. Akan tetapi apa yang datang kepada mereka salah satu dari ayat-ayat Tuhannya lalu mereka itu berpaling daripadanya. Dan yang demikian itu karena Kami adakan tutup di hadapan dan dibelakang mereka, lalu mereka Kami tutup. Oleh karena itu mereka tiada juga mau percaya.

Sekarang marilah kita kembali kepada yang dimaksud. Sesungguhnya semua yang tersebut itu adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu muammalah. Maka kami terangkan bahwa telah jelas bahwa sabar itu adalah tetapnya penggerak agama untuk melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini termasuk ciri khas anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.

Dua malaikat yang menuliskan amal anak Adam itu tidak menuliskan sesuatu dari anak-anak kecil dan orang gila karena telah kami sebutkan dahulu bahwa kebaikan itu adalah pada menghadapkan diri untuk mengambil faedah daripada keduanya (malaikat). Dan kejahatan itu ada pada berpaling dari keduanya (malaikat). Bagi anak-anak kecil dan orang-orang gila , maka tiada jalan bagi mereka untuk mengambil faedah tersebut. Maka tiadalah tergambar dari anak kecil dan orang gila itu untuk menghadap dan berpaling. Dan kedua malaikat penulis amal itu tiada menulis selain menghadap atau berpaling dari orang-orang yang mampu kepada menghadap dan berpaling itu.

Demi umurku, sesungguhnya telah nampak tanda-tanda permulaan kecemerlangan sinar petunjuk ketika tiba pada usia tamzis (usia yang telah dapat untuk membedakan antara bahaya dan manfaat). Tanda kecemerlangan itu tumbuh dan berangsur-angsur sampai kepada tahun datangnya dewasa (baligh). Sebagaimana menampak sinar pagi sampai kepada terbitnya bundaran matahari.

Akan tetapi itu adalah petunjuk yang singkat, yang tiada menunjukkan kepada hal-hal yang mendatangkan melarat di akhirat, akan tetapi pada hal-hal yang mendatangkan melarat di dunia.

Oleh karena itulah seorang anak akan dipukul karena meninggalkan shalat seketika itu juga dan ia tidak disiksa karena meninggalkan shalat itu kelak di akhirat, dan pula tidak dituliskan pada lembaran-lembaran amal yang akan ditebarkan di akhirat. Akan tetapi menjadi tanggung jawab yang mengurus anak itu yang adil dan walinya yang baik yang penuh belas kasihan kalau ia termasuk orang-orang yang baik.

Dan ini adalah sikap dari para malaikat yang mulia, yang selalu menulis amal, yang berbuat baik lagi pilihan, bahwa dituliskan bagi anak kecil itu akan kejahatan dan kebaikannya di atas lembaran hatinya. Lalu dituliskan kepadanya dengan pemeliharaan. Kemudian disiarkan kepadanya dengan memperkenalkan, kemudian ia dihukum dengan pemukulan.

Maka setiap wali anak kecil yang demikian sikapnya terhadap anak kecil itu, maka sesungguhnya ia telah mewarisi sikap para malaikat, dan ia mengaplikasikanya terhadap anak kecil itu. Maka dengan demikian, ia akan memperoleh derajat kedekatan dengan Tuhan semesta alam sebagaimana yang diperoleh para malaikat. Maka Wali tersebut bersama nabi-nabi, orang-orang yang dekat dengan Allah (Al-Muqarrabiin) dan orang-orang yang membenarkan agama (Shidiqiin).

Kepada itulah diisyaratkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Anaa wakaafilul yatiim kahaataini fil jannah” Artinya, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim adalah seperti dua ini di surga”. Nabi SAW mengisyaratkan kepada dua anak jarinya SAW yang mulia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar